Jumat, 18 Mei 2012

Membabi Buta


Libur panjang, lumayanlah kalau sedandainya liburan yang mulai hari kamis, 17 Maret 2012 ini digunakan untuk jalan-jalan atau pulang ke kampung halaman. itu sangat akan menyenangkan dan akan bisa merefreshkan jiwa dan pikir walau sejenak.
 Namun, sayang sekali hal itu tidak saya rasakan untuk liburan kali ini. saya memutuskan untuk tetap stay di jogja, bersemadi di dalam kamar dan kali ini saya tidak ingin kemana-mana. Ya, hanya ingin di kamar saja. 
Kenapa begitu? Ibarat kendaraan, diri ini sangat banyak beban yang dibawa, entah dalam pikir, pundak, tangan , ataupun itu dalam jiwa. Mmang kedengaran banyak berlebihan (hahaha). Namun, itulah yang pas saya katakan untuk saat ini.
Sedikit berbagi tentang kengoyoan saya adalah memaksakan diri untuk menyelesaikan translitersai, mentarget paling tidak sehari bisa menghasilkan sekitar 40-50 halaman yang sudah harus diketik. Maka, walhasil punggungpun terasa sangat pegal-pegal, duduk menjadi sangat enggan, tidur juga jadi tak nyaman, apalagi kalau jalan. Dan parahnya, mata ini serasa berat layaknya ada gajah yang menggantung. (ah, itu mah salah sendiri. :-P)
Kembali dalam situasi yang saya alami adalah perkenaan deadline dan skripsi. Hal ini entah sebuah semangat yang menggebu atau hanyalah sebagian dari ke-ngoyo-an saya yang tiada pikir panjang. Yang sebaiknya liburan digunakan untuk merehatkan pikir, namun diri ini malah menggunakan liburan untuk ngoyo agar bisa segera menyelesaikan transliterasi yang segede gaban. (Entahlah...)
Sekarang, saya ingin istirahat. Maka tampaknya ngeblog dan berselancar di dunia maya baik lewat FB atau twitter itu sangat bisa membantu (apa hubungannya?)
Wah, tulisan ini sangat tidak jelas, tidak bertema dan tidak beralur. Tapi saya menulis apa yang ada di hati sekarang. Ya, biarkanlah kalau tampak kacau.(hahaha). Semoga besok tidak terulang lagi dan semoga bisa ada tulisan yang lebih baik dan bisa bermanfaat untuk semuanya. J

Jumat, 06 April 2012

Pagi Dingin dan Kopi

Benar-benar dingin pagi ini, setelah kemaren hampir seharian turun hujan.
Benar-benar mantap kopi ini, setelah lama badan menggigil karena dingin.


Bukan saatnya untuk berselimut, 
padahal angin masih ganas menembus pori-pori kulit.
Bukan saatnya untuk meringkuk,
padahal mentari belum tampakkan senyum menawannya di pagi hari.


Maka, tetap harus terbangun,
tanpa hati menggerutu tanpa bibir bertekuk ke atas
Dan aku menemukan diriku tersenyum puas
perut berdendang ria
hati berbisik 
"inilah nikmatnya minum kopi di pagi hari yang dingin"

kopi hangat

Rabu, 14 Maret 2012

Katresnan

Rikala semana, sliramu iseh kinyis-kinyis,
lan aku iseh isin-isin,
ketemu ana ngarep sekolah,
adu plerok, adu esem,
atiku rasane mak pyar,
ora ngerti apa sebabipun.

Aku ora ngerti,
mung pitakon ana ati,
kang tansah ngresula ing pikir.
ladalah.....
iki aku kesambet apa,
dadi ayu, malah kemayu.

ora pisan ora pindho,
sliramu pating sliwer ana ing pikirku,
gawe ruwet ana ati,
nanging dadeke esem tanpa leren.

saiki, nem tahun wis kapungkur..
cerita jaman semana tetep ana ing ati,
sliramu uga isih tetep kinyis-kinyis,
lan selot suwe aku tambah tresna marang sliramu. 



Kamis, 12 Januari 2012

Sudah Menjelang Pagi, Ada Apa dengan Parcen? # Akhir cerita

Hati kecil dan Hati besar menyadari bahwa mereka bukanlah manusia seperti kebanyakan manusia yang bisa dilihat secara nyata. dia hanya bisa dirasa oleh sang empunya. Mereka berpikir keras, sambil berguling juga berloncat, yang akhirnya hati besar mengemukakan ide briliannya.

"Hey, kecil.. ngapain kamu bengong gitu?" tanya hati besar sambil cengengesan.
"Jangan ganggu aku, besar.. aku lagi berpikir nyari cara agar Parcen tidak lagi bermuram durja.. tak tega aku ngeliatnya.. la kamu, ngapain cengengesan?? bukannya ngasih ide malah senyum gak jelas... kayak Supar aja kamu, sukanya ketawa gak jelas di pasar Bulumanis". Hati kecil sewot.
"Ah kamu... kok langsung ngatai aku gitu seh.. sebel!" jawab Hati besar tak terima.
"lho lho... kamu kok malah ikutan ngambek.. gimana ini..??" Hati kecil bingung.

Walhasil, mereka malah diem2an tanpa solusi.
"Besar,, jangan ngambek gitu... kalo kamu ngambek kasian Parcen, nanti dia sedih terus...kamu punya ide gak?hati kecil merayu hati besar.
"tadinya aku punya ide... tapi hilang mood gara-gara kamu gitu." Hati besar sok jual mahal.
"Tapi ya Cil... biasanya orang tu lebih suka dengerin kata Hatai kecil lho.. nah, kalo kamu punya ide yang menarik atau yang nyenengin coba aja diungkapkan. siapa tau ucapanmu terbawa hembusan angin dan nyantol di telingan Parcen terus meresap dalam sanubari dan bisa sedikit ngobatin Parcen. how?" Hati besar menjawab sekenanya, yang memang nanti itulah jawabannya...
"It's great!! tumben kamu pintar." Jawab Hati kecil memuji temannya.
Hati besar tersenyum ria karena diakuin kepintarannya. jarang-jarang hati kecil mau muji sesama hati yang lain.
"Yaudah, kamu mau gimana?" hati Besar membujuk lagi.
"Biasanya se kalau aku melihat kebanyakan orang yang lagi bete-bete gak jelas gitu biasanya mereka ambil wudlu, sholat, baca al-qur'an, atau baca buku, atau malah tidur. nanti habis itu biasanya mereka kembali normal.. semua tergantung masalahnya kok, Sar." Jawab hati kecil sok tahu.
"o gitu ya..."jawab Hati besar manggut-manggut sok tahu.
"kalau gitu kamu mau nyaranin Parcen apa?" lanjut Hati besar bertanya.
"la kalau kamu milih apa diantara yang semua tadi?"balas Hati kecil balik bertanya.
"semuanya" jawab Hati besar.
"Gimana caranya?"Hati kecil tak mengerti.
"Diurutin satu-satu, cil.. dari wudlu-sholat-baca Al-qur'an- baca buku- dilanjut tidu- dan semoga nanti pas bangun udah seger." jawab Hati besar antusia.
"Wah... kamu hebat, Sar. ok.. langsunng tak titipin lewat angian ya biar disampaikan ke Parcen. jawab Hati kecil bahagia.
"ok, Cilll" jawab Htai besar mantab.

Selang beberapa menit kemudian, angin berhembus pelan mengenai tirai kamar Parcen dan berlanjut mengibatkan rambut kusut Parcen.
Parcen menengok ke arah jendela sambil bergumam...

Angin.. 
hembusanmu yang lembut
tambahkan rindu dalam sanubari
kepada kekasihku nan jauh di sana
juga kedua orang tuaku yang ada di seberang pulau...

Angin... 
sampaikan salamku buat mereka orang-orang yang ku sayang..
Semoga mereka baik-baik saja di sana..

Tak lama kemudian Parcen beranjak dari tempat duduknya sampik mengibas-ngibaskan rambutnya yang penuh ketome karena tiga hari belum dikeramas. Lalu Parcen mengambil buku diary berwarna biru dan menuliskan sesuatu diatas kertas.
Rindu ini benar-benar membuatku gundah semalaman. 
Aku ingin kalian baik-baik saja di sana.
Dalam setiap desahan nafas aku selalu berdoa untuk kalian semua..

Setelah itu dia menutup buku dan menaruh di tempat semula. 
lalu Parcen melangkahkan kaki ke kamar mandi dengan senyum yang mengambnag di bibir manisnya.

Hati kecil dan Hati besarpun tersenyum bahagia.

Kamis, 24 November 2011

Sudah menjelang pagi, Ada apa dengan Parcen?? #II

Saat hati besar pergi, hati kecil dan hati sedang hanya bisa bengong tak mengerti. Garuk-garuk kepala, lalu akhirnya mereka cubit-cubitan. Namun anehnya Parcen gak merasa terganggu karena ulah mereka.

Diam lalu tersenyum
beralih pandang, sedikit geser pantat,
geleng-geleng kepala, rambutnya serta berayun
lalu bermuram durja
mata berkedip, tersenyum,
kembali bergeleng-geleng kepala 

Hati sedang dan hati kecil mengikuti semua gerak-gerik Parcen yang tak biasa itu. Biasanya Parcen selalu tersenyum, selalu ceria dalam keadaan apapun. Bahkan Parcen tidak menangis kala kakek tersayangnya pulang  Ke Rahmatullah. Saat ditanya oleh Parti kenapa dia tidak menangis, Parcen menjawab dengan santai dan terlihat sangat tabah yaitu karena Parcen kakeknya pulang dengan hati yang tenang, dan juga tersenyum. karena kalau yang ditinggal oleh kakek menangis dan gak ikhlas atas kepergiannya maka kakek akan berat untuk melangkah dan melakuan segala aktivitas yang sudah harus dilakukan di dunia lain itu. Dan ajaibnya, Parti mulai mengurangi tangisan derasnya dan Parti tidak guling-guling lagi karena menangis. Parcen senang atas hal itu, lalu mereka berpelukan. 

Tapi, kenapa Parcen sekarang tak lagi seperti Parcen yang dulu? 
wajahnya tampak berkerut seperti orang yang tak tau arah, berkerut-kerut menyiratkan banyak hal dan masalah yang sedang menghampiri dirinya. Hati kecil dan hati sedang yang dari tadi ribut mendebatkan ada apa dengan Parcen tiba-tiba sepakat memandang Parcen dengan hati iba. 

"Bagaimana kalau kita hampiri Parcen?" tanya Hati kecil melas.
"Ngapain? nanti kalau dia malah nangis gimana?" jawab hati sedang melas juga.
"Kan bagus malah.. nanti kita siapkan dada kita yang lapang buat Parcen agar dia bersandar pada kita, terus Parcen bercerita mengungkapkan semua kegundahannya pada kita, kayak di film-film picisan itu lho... " jawab hati kecil dengan semangat. 
"itu kan kalo cowoknya.. la ini, siapa loe?" jawab hati sedang meremehkan. 
"Tapi kan......" 
"Tapi apa?" hati besar menyela dan memandang hati kecil.
mereka berdua akhirnya saling pandang dan tertawa terbahak... hahahahahahahahaha

"bagaimana kita bisa melakukan itu semua?" tanya hati kecil menyadarkan.
Dan akhirnya mereka berduapun sadar bahwa mereka bukan manusia biasa... 
"Apa yang harus kita lakukan agar Parcen bisa kembali seperti semula?" gumanya hampir bersamaan.