Tampilkan postingan dengan label cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita. Tampilkan semua postingan

Senin, 28 November 2016

Setiap Hari, Menikmati Bermain dengan Si Kecil

Tantangan lagi, every day is tantangan. Ada yang suka? Atau malah takut? Suka gak suka, takut gak takut, tantangan akan tetap mampir dalam hidup. So, yuk lakoni tantangan yang ada dalam hidup kita. Dan, jangan lupa selalu bahagia.
Ngomong soal tantangan, tantangan itu aka nada baik secara sengaja ataupun di sengaja. Dan, minggu ini tantangan di ODOP 3 adalah menuliskan tentang kegiatan sehari-hari.
Sebelum lebih lanjut, saya akan menekankan pada diri saya, bahwa saya harus bersyukur apapun lakon saya, dan bagaimanapun lakon saya.
Saya, seperti cerita di minggu kemarin adalah seorang ibu rumah tangga yang memiliki kerjaan sampingan, yaitu sebagai Pendamping Program Keluarga Harapan.
Dua status ini akan melekat pada diri saya setiap saat. Iya, Pendamping PKH kerjanya begitu, tentang pelayanan kepada masyarakat. Jadi, setiap saat harus siap jika dibutuhkan. Kecuali saya melepaskan pekerjaan ini, maka status Pendamping ini akan lepas dari diri saya. Beda lagi dengan ibu rumah tangga. dak Status ini adalah status kebanggaan yang tidak akan pernah lepas dari diri seorang wanita yang sudah memiliki keluarga. Tidak akan pernah! Mau dandan semolek apapun diri saya, saya tetaplah ibu rumah tangga yang memiliki seabreg kewajiban.
Sehari saya memiliki waktu 24 jam. Dan saya rasa semua orangpun sama memiliki waktu 24 jam. Satu hal yang membedakan, adalah tentang bagaimana kita menggunakan waktu yang tidak banyak itu. Setiap hari, saya di tuntut untuk ‘ngantor’. Tidak lama sebenarnya, cukup dari jam 09.00- 12.00. selebihnya saya bisa di rumah.
Di luar jam tersebut, saya memang memilih untuk menghabiskan waktu di rumah. Menata rak buku, menuliskan coretan tak penting, dan spesialnya saya menghabiskan waktu bersama sang buah hati yang umurnya 2 tahun 5 bulan.
Bermain dengan sang buah hati merupakan surga bagi saya. Bagaimana  tidak? Saya bisa melihat perkembangannya juga mendengar celoteh lucunya. Sering saya mengajak dia bermain air yang dikasih pewarna. Dan ini membuat kami bisa tertawa lepas. Permainan ini sangat menyenangkan, selain bisa untuk hiburan hal tersebut juga bisa menjadi media belajar mengenal warna.
Saya suka membeli mainan untuk anak, juga membeli buku baik buku cerita anak ataupun novel  dewasa. Tapi, ternyata dua tahun terakhir ini budget untuk pembelian novel saya kalahkan dulu demi membeli buku anak. Bahkan saya rela ikut arisan buku demi mendapatkan buku anak yang bergizi. Kesannya, buang-buang duit ya. Tapi, bagi saya itu adalah aset. Kenapa begitu? Dengan adanya fasilitas untuk anak maka kita akan bisa bermain dengan nyaman. Setiap hari, anak saya suka bermain mobil-mobilan. Dia akan menata berbaris dari depan hingga belakang mobil yang dia punya. Dari sini kita bisa memainkan peran. Saya pemilik mobil polisi, ayah pemilik pesawat, dan anak pemilik mobil truk. Maka jadilah kita bermain dengan seru meski kadang kacau dan gaduh. Jika bosan, kita bisa berpindah ke mainan lainnya.
Tidak memungkiri, air, tanah, pasir juga menjadi alternative media mainan kami yang sangat menyenangkan. jika bosan, kami akan mencari yang lain. Bermain ke rumah tetangga, rumah nenek, atau rumah mbah buyut yang tidak terlalu jauh.
Main mulu ya? Iya nih. Saya masih satu rumah dengan kedua orang tua saya. Soal memasak bukan lagi menjadi tanggung jawab saya selagi ibu saya mampu. Ibu saya memang gitu. Tapi saya dan suami akan turun ke dapur jika kami ingin makan sesuai yang kami mau.
Anak kecil itu lucu, tapi kadang bikin kesel. Apalagi saat jiwa remuk, hati kacau. Nah, saat seperti ini saya bisa bekerja sama dengan suami ataupun orang tua saya. Saya akan melakukan hal yang sekiranya bisa mengembalikan mood saya. Saya bisa ketemu teman lama untuk sekedar jalan atau ngobrol kesana kemari atau melakukan hal lain. Pernah suatu ketika ibu saya menyarankan saya pergi dengan suami, berdua saja. Nanti sang anak bisa di rumah dengan orang tua saya. Saya sih mau-mau saja, tapi ternyata suami saya tidak mau. Kalau mau pergi ya sekalian bertiga atau saya main ke rumah teman dan suami di rumah dengan anak. Hal seperti ini tidak membutuhkan waktu lama, dan keadaan akan kembali seperti semula.
“Ternyata, punya anak ribet ya. Tidak bisa sebebas saat masih gadis?” suatu hari keponakan saya bertanya.
Jawaban saya, “Yups, bisa jadi begitu. Tapi kalau kita bisa menikmati semua akan terasa indah dan keribetan yang muncul akan menjadi bumbu kehidupan yang nikmat. So, jangan takut punya anak setelah menikah.”.

Kamis, 17 November 2016

Key Tidak Punya Baju!

Dia merasa tidak puas. Baju yang bertumpuk-tumpuk  terasa tidak memiliki baju. Semua warna ada, semua model juga dia punya. Merk yang paling beken hingga abal-abal juga ada di dalam almarinya. Namun, dia masih gelisah. rasanya, Semua jelek!
“saya tak mau pergi, Yah! Saya di rumah saja jaga rumah dengan nenek!" Katanya dengan suara keras.
“Kenapa begitu?” tanya ayahnya dengan nada kalem. Lalu, ayahnya menghampiri anak semata wayang yang duduk termenung di sudut kamar tidur.
“Lihat, yah. Baju saya tidak ada yang bagus. Semua sudah jelek dan tidak ada yang pas untuk menghadiri acara ulang tahun Satria.” Keluh Keysha pada sang ayah.
“benarkah itu?” Tanya ayahnya heran. “bukankah minggu kemaren Key beli baju dengan BUnda?” ayah melanjutkan pertanyaannya dan menghampiri tumpukan baju yang berantakan.
“Iya” jawab Key tak bersemangat. “Baju baru yang Key beli dengan bunda kan sudah dipake kemaren, yah”. Lanjut Key serasa ingin dibenarkan.
“coba lihat, baju ini bagus, nak. Cocok buat dating ke acara ulang tahun satria.” Ayah menyodorkan baju warna biru muda yang anggun di hadapan Key. Key hanya melirik.
“itu baju sudah pernah Key pake dating ke acara Ulang tahun Mala teman satu kelas Key dan satria” Jawab Key lesu.
“lalu, Key mau pakai baju yang mana?” Tanya ayah tetap sabar.
“Entahlah. Key tak ingin datang saja, yah.” Key mendesah.
“Bunda Key sudah di sana. Bunda pasti sudah menunggu. Dan jika Key tidak datang, Satria akan kecewa. Key tahu? Key adalah sepupu satria yang sangat disayangi.” Ayah berkata dan masih sibuk mencari baju di deretan baju-baju Key yang berjajar di lemari gantung.
“Baiklah.” Key mengalah dan melangkahkan kaki ke dekat ayahnya. Mereka memilah satu persatu baju yang berjajar di lemari gantung dan juga di deretan tumpukan baju yang di lipat rapi.
Akhirnya, Key menemukan baju yang pas dan mereka berangkat ke acara ulang tahun Satria.
Sepanjang perjalanan, seperti biasa Ayah dan Key mengobrol kesana-kemari.
“Key” ayah memanggil lirih
“iya, yah” Key menjawab
“kamu tau kenapa Key merasa tidak punya baju padahal di lemari ada baju begitu banyak dan masih bagus?” Tanya ayah
“karena………………”
“karena Key belum bisa mensyukuri apa yang sudah Key punya” ayah Key memotong. Lalu ayah melanjutkan. “dan jika Key tidak bersyukur, Key akan begitu terus. Merasa tidak punya padahal masih punya. Dalam hal apapun ini, nak. Jadi, belajarlah bersyukur agar apa yang sudah Key punya bisa dinikmati dan dimanfaatkan dengan baik.”
“coba lihat anak itu, Key” ayah Key menunjuk keluar. Di seberang jalan ada anak kecil yang menjajakan sebuah Koran. Anak kecil itu berpenampilan sederhana, kaos oblong dan celana pendek yang sudah berwarna usang. Tapi anak kecil itu selalu tersenyum di sela-sela dia menjajakan korannya.
Setelah Key memerhatikan gerak anak kecil si penjual Koran, Key menatap ayahnya dan berkata. “Iya, yah. Seharusnya Key bersyukur. Dan tidak seharusnya Key menganggap barang yang sudah Key pakai beberapa kali adalah barang jelek dan tidak layak pakai yang harus di buang. Semua bisa dimanfaatkan, baik untuk kita sendiri atau orang yang membutuhkan”
Ayah tersenyum, dan senyuman itu disambut senyum bahagia Key.  Lalu, mereka turun karena ternyata sudah sampai di rumah Satria.

Sabtu, 20 Agustus 2016

LIWETAN : MENGUAK TRADISI MEMASAK DI ALAM TERBUKA

Liwetan. ada yang tau? Mungkin sedikit asing. Tapi kalu nasi liwet, saya yakin sahabat semua mengenalinya. apalaggi sego liwet khas Solo. Oke, lupakan itu!

Nah, hari ini tanggal 19 Agustus 2016 saya dimelekkan sebuah tradisi yang masih berjalan di kampung halaman saya, yaitu Desa Pelemgede, Kecamatan Pucakwangi, Kabupaten Pati, Jawa Tengah. kalau berbicara sebuah tradisi, mungkin ada sebagian sahabat yang akan bilang "Ah, apa sih Tradisi?" (Jelas, ini akan sangat panjang penjelasannya. Sahabat bisa mencari via google, buku, ataupun kepada ahlinya).

Disini, saya ingin bercerita tentang kegiatan hari ini, yaitu kegiatan masak memasak. Bukan! ini bukan memasak seperti pada umumnya, yang dilaksanakan oleh seseorang atau beberapa orang dengan menggunakan peralatan lengkap dan di dalam ruangan khusus, yaitu Dapur!. 
Memasak kali ini sangat luar biasa. Tidak hanya sekedar untuk mengahasilkan olahan yang akan dimakan pada siang hari ataupun sore hari. Namun ada sejarah yang terkandung di dalam olahan LIWETAN.

Berbicara LIWETAN, pastilah akan melemparkan ingatan kita pada masa kecil. Masa kecil yang sangat luar biasa syahdu atas keakraban anak-anak dengan alam terbuka. Pada masa kecil zaman saya, saya beserta teman sangatlah senang bermain masak-masakan di alam terbuka. Ada banyak hal yang bisa kami jadikan media untuk bermain masak-masakan. Ada umbi-umbian, ada Gembili, ada Ganyong, bahkan tanahpun bisa kami masak di atas api dengan peralatan seadanya. Terkadang, bukan masakannya yang matang, tetapi wadahnyalah yang terbakar oleh bara api. Bukan karena teledor, ini karena wadahnya dari tempurung kelapa atau wadah bekas dari plastik.

Nah, lalu mari kita kembali ke LIWETAN.
LIWETAN ini dilakukan oleh beberapa kelompok di satu desa. Satu kelompok bisa terdiri dari 5 orang hingga tak terbatas. Mereka melakukan iuran beras sedikit-sedikit dan uang sesuai kesepakatan untuk belanja bahan yang akan digunakan untuk lauk dan sayur. Cukup sederhana, Gori atau nangka muda dicampur telur ayam, tempe, dan udang sudah bisa menjadi sayur sekaligus lauk. Nasinya di masak dengan cara diliwet. adapun liwetan dilaksanakan di tempat terbuka. Ada yang di sawah, ada yang di Perengan, Ada yang di bawah pohon jati. sesuai kesepakatan. Suka-suka mereka mau dimana, yang penting mereka memilih lokasi yang tidak jauh-jauh dari tempat tinggal mereka. 



Tidak usah tanya LIWETAN dimulai sejak kapan. saya jamin mbah saya yang usianya sekitar 90 tahun tidak akan bisa menyebutkan tahun kapan dimulainya. Mbah hanya bisa bercerita, kalau jaman dahulu LIWETAN biasa dilakukan di sawah oleh para penggembala sapi atau ternak lain. LIWETAN yang dilakukan pada musim kemarau ini mungkin karena pada musim inilah banyak tumbuhan tumbuh subur sehingga para ternak bisa menikmati rerumputan dengan tenangnya dan para penggembala sangat bersyukur dan mempunyai waktu untuk sedikit berleha. Pada akhirnya mereka merealisasikan kebahagiaan dan rasa syukur dengan cara memasak bersama saat menggembala. 

Maka dari itu...................

LIWETAN ini dilaksanakan satu tahun sekali pada saat musim kemarau. LIWETAN di lakukan untuk mensyukuri atas nikmat yang diberikan oleh Sang Maha Kuasa. Nikmat sehat, nikmat rizki, nikmat segala hal yang diberikan oleh Sang Maha Kaya sehingga kami semua bisa menikmati kebahagian bersama-sama. dan LIWETAN masa kini, tidak harus dilakukan mereka yang punya ternak pun tidak harus mereka yang banyak uang. Tapi siapa saja yang mau boleh ikut kegiatan yang menyenangkan ini.

Bahagialah kita karena bisa bercengkrama bersama dengan berkegiatan positif di alam terbuka. 

Satu hal penting, LIWETAN ini tidak wajib. Dari 20 Desa yang berada di Kecamatan Pucakwangi juga tidak semuanya melakukan kegiatan yang hangat dan syarat kebersamaan ini.

dokumen pribadi





Kamis, 11 Agustus 2016

HAPPY 3TH ANNIVERSARY, SAYANG!

Seringnya gini, kalau mau nulis sesuatu rasanya pikiran gak bersih. semacam sarang laba-laba yang tak beraturan. banyak banget yang bejubel, entah ini inspirasi atau kepusingan dalam pikir. #Abaikan saja.

Yuk, mari fokus!
Pertama, lagi-lagi saya kayak jailangkung. Datang tak diundang pergi tak diantar. yah, seenaknya sendiri. terakhir, saya nulis tahun 2015. bercerita tentang se Kenang sholihku yang bernama Fachri. dan sekarang sudah 2016. lama ya? hampir satu tahun. 

Sekarang, 11-08-2016!

Ada apa dengan 11-08-2016? Bukan! ini bukan hari yang menakutkan. Tapi 11-08-2016 hari yang indah. hari yang indah untuk kembali mengingat masa itu. Masa itu, masa tiga tahun yang lalu, 
11-08-2014. Masa di mana saya adalah mempelai yang sangat bahagia. tak henti-henti saya sunggingkan senyum termanis untuk sang pujaan yang baru mengucapkan janji suci.

Alhamdulillah, kini usia pernikahan kita sudah tiga tahun. 
Cerita cinta yang sesungguhnya masih dini.
Masih banyak cerita yang harus kita rajut.
Namun, di usia tiga tahun ini, 
Tidaklah cukup saya menceritakan segala kisah kita untuk putra kecil kita.
tentang kisah kita, disaat kita bahagia
tentang kisah kita, disaat kita harus berjuang
tentang kisah kita, disaat saya rindu sedang kamu harus melaksanakan tugas di sana
tentang kisah kita, disaat saya ingin marah sedang kamu memberi syarat 5 menit saja
tentang kisah kita, disaat saya diselimuti kemalasan sedang kamu menyiapkan hidangan istimewa.

Ya, cerita cinta kita mungkin masih dini.
Namun, saya tak akan mampu menceritakan kisah kita kepada putra kecil kita.
bagaimana kamu berjuang saat itu hingga saat ini.
Sungguh, saya tak akan mampu.

Dan, di usia tiga tahun ini
saya hanya mampu kembali panjatkan doa
Semoga keluarga kecil kita selalu dipayungi cinta kasih yang membawa keharmonisan
Semoga Keluarga kecil kita selalu dipayungi kedamaian dan ketenangan 
 serta langkakh kita mendapat ridho dari Sang Illahi.
Amin Ya Robbal Alamiin....


Jumat, 13 Februari 2015

2015 dan Jagoan Kecilku

Saya kembali, setelah sekian lama (sengaja) menghilang. Ada dorongan dari dalam agar saya membuka blog untuk sekedar bernostalgia. 
namun, setelah saya membuka dan menyelami, ada daya tarik tersendiri sehingga tangan ini mulai menari di atas tuts keybord lepy jadulku. 

Yach, hampir genap dua tahun saya tidak berselanjar dan jalan-jalan di Blog. Akhirnya banyak cerita yang terpendam, bahkan terbuang entah kemana. Sayang sekali! 

Sekarang, 2015 ada banyak cerita berjubel. Salah satunya saya sudah punya jagoan. Dia kecil dan imut, tapi badannya super montok. di Usia 8 bulan ini, dia memiliki berat badan 8,3 kg. Saat ini dia senang merangkak. Tapi aneh, merangkaknya tidak seperti kebanyakan anak. yang dia gunakan merangkak adalah dadanya. hal ini sudah dilakukan sejak dia berusia 6 bulan. Sekarang dia sudah mulai belajar menggunakan tangan dan kaki untuk membantu proses merangkak agar lebih cepat dan belajar duduk sendiri. 

Dia sangat aktif, muter sana muter sini, naik meja naik kursi. semua ingin dia coba. Terkadang saya kuwalahan. Untungnya, eyang putri baik hati menggantikan saya untuk bermain bersamanya. 

Oiya, ada yang ketinggalan. 
Nama dia adalah Akmaluddin Fachri Nur Ahmad
Lahir tanggal 11-06-2014.

Fachri saat bermain

Nah, itu dia Fachri jagoanku. udah gede ya?
Lucu juga, datang-datang langsung cerita jagoan. emang kapan nikahnya?
Semoga suatu saat bisa menuliskannya.

Senin, 18 Maret 2013

Cerita Mbah Buyut yang Berusia Satu Abad

Terhitung, hampir satu bulan tidak nulis di sini. Alhasil, banyak cerita terhambur, banyak cerita tercecer, dan banyak cerita terendam hingga aku tak tahu bagaimana lagi harus mengumpulkannya.
Namun, it's no problem. tetap ada cerita menarik dan menggelitik hati untuk ditulis di sini. Sebulan berjalan, pastlah banyak cerita dan pengalaman yang ku dapat. Dan semua itu akan menjadi bagian yang berharga dalam hidup, karena Pengalaman adalah Guru yang Terbaik.

Kali ini, saya tertarik melihat gambar yang ada di ponsel. Ini dia gambar yang ada di ponselku:

gambar diambil oleh Cenung di rumah mbah buyut
Ya, ini adalah mbah buyutku. namanya mbah buyut Kamisah. Beliau asli orang Pati, tepatnya desa Pelemgede, Pucakwangi, Pati. Usianya mencapai satu abad. sayangnya, saya tidak tahu kapan tanggal lahir pastinya. bahkan bapak saya yang asli cucunyapun lupa berapa persis usianya. Di desa Pelemgede, buyut Kamisah termasuk salah satu orang yang tertua dengan usianya yang mencapai sekitar satu abad.
Tapi, saya mencoba tidak mempermasalahkan persoalan usia mbah buyut saya yang tinggal satu-satunya ini. Yang saya pikir sekarang ini adalah, bagaimana caranya saya bisa membuat beliau bahagia mengingat di jaman dahulu kala, saat aku yang masih ingusan, aku suka sekali merepotkan beliau. 

Di usianya yang sudah lanjut itu, buyut Kamisah menyimpan banyak cerita dari jaman penjajahan hingga jaman sekarang ini yang menurut beliau jaman sekarang ini sudah enak, tidak suburuk seperti jaman dulu kala buyut masih muda. 

Bayangkan saja, dahulu kala, jika ingin pergi jauh satu-satunya alat transportasi adalah sepeda. Dan itupun kalau punya. kalau tidak punya? Maka anda harus siap jalan kaki dengan jarak berkilo-kilometer. Akses kendaraan umum pada masa mudanya buyut Kamisah belum ada, karena lokasi yang ada di pedalaman dan jauh dari keramaian. 

Dalam keriput kulitnya, beliau menyimpan bekas kecantikan alamiah seorang gadis desa. Sekarang beliau tinggal bersama anak terakhirnya, yang lokasi rumhanya sebenarnya tidak jauh dari rumah. 
Dan saya harus bersyukurm karena dari sekian cicitnya, akulah cicit yang selalu diingat dan disayang oleh beliau. :-)

Maka, jika aku pulang rumha, hal yang wajib kulakukan adalah mengunjungi buyut tersayang dengan membawakan beberapa potong roti empuk. Sembari kami bercanda ala kadarnya (karena saya harus bicara keras-keras jika berbincang dengan buyut) ku bukakan roti empuk itu. Buyut akan mengunyah roti empuk itu sambil tertawa mendengarkan cerita ini-itu. 

Ya, inilah buyutku tersayang yang masih bisa menikmati indahnya alam hingga tahun 2013. Dan alasan yang membuatku ingin pulang adalah karena aku kangen buyut.

Rabu, 07 November 2012

Saya Sepanjang Waktu


Mampir narsi ah...
Adakah teman tahu bagian mana yang berubah dari keempat foto tersebut?
Foto yang masih lugu tanpa krudung adalah foto saat duduk di taman kanak-kanak (TK). saat itu mungkin berusia sekitar 5,5 tahun.

Kemudian, poto yang kedua, yaitu poto yang berkerudung hitam adalah poto saat lulus dari SMA. poto tersebut diambil untuk kebutuhan daftar kursus bahasa Inggris di Pare-Kediri. hmmm... masih sangat lugu ya... haha

Nah, kalau yang bagian bawah tampaknya sudah kelihatan garis-garis kedewasaannya (benarkah?) hahaha.
poto yang berkerudung putih dengan bigron biru adalah satu tahun setelah lulus SMA. poto tersebut digunakan untuk mendaftar UM UGM pada tahun 2008. studio poto yang digunakan untuk poto adalah di Studio poto yang berada di Pare-Kediri, namun sayang saya luap apa nama studio potonya.

Adapun poto yang terakhir dengan senyum yang menawan ini adalah pas poto terbaru di tahun 2012. poto ini diambil di pototalk yang berlokasi di Jakal-Yogyakarta. adapun kegunaan poto ini adalah untuk syarat Yudisium... (horee...). Poto yang terakhir ini kalua menurut teman-teman memiliki aura dan tatapan yang optimis untuk menatap masa depan. Semoga memang masa depan sie pemilik wajah tersebut memang secerah tatapannya dan se-optimis senyumnya... (hehehe)





Inilah perjalanan perubahan wajah saya dari waktu ke waktu...
Dan bagaimanakan wajah Cenung selanjutnya?
Jadi penasaran... semoga 5 atau 10 tahun mendatang saya masih bisa melihat dan bercerita tentang perjalanan dan perubahan wajah imut saya ini... hahaha (narsis temen to nak...)..

Rabu, 10 Oktober 2012

Barang Kecil, Sayang namun Harus Segera Diungsikan

Awal menuju pertengahan bulan Oktober (o9/10/12), mumpung di kamar sendiri dan tenaga sedang berlebih dikarenakan emosi yang meluap, kiranya sangat bagus dilampiaskan untuk beberes. Mulai dari ngepack buku yang kiranya sudah harus dibawa pulang, ngepack baju yang harus sudah diungsikan, juga menyeleksi mainan kecil, barang-barang kecil hasil koleksi saya dari semester awal. Ya, semuanya harus segera dipilih, mana yang tetap akan menemani saya di Jogja, dan mana yang harus dipulangkan, juga mana yang harus masuk kantong sampah (maafkan ya...bukannya aku tak sayang barangku, tapi memang sudah selayaknya untuk dimusnahkan).

Sebenarnya tidak banyak baju yang harus diungsikan, karena pada dasarnya saya tidak sesering beli jajan dalam hal koleksi baju (hahaha). Namun, sesuatu yang mengejutkan saya adalah ternyata betapa banyaknya mainan kecilku, dari hal sepele tiada guna sampai hal yang sangat ku sayang. dari barang yang tidak ada harganya hingga berharga yang lumayan membuatku menarik nafas.... 

Betapa aku baru menyadari, bahwa aku punya hobi beli barang kecil (aksesoris). Yah.. dan sekarang aku harus merelakan mereka dimasukkan ke dalam kardus agar nantinya mudah untuk di bawa ke tempat hidup saya selanjutnya. Selain hobi untuk membeli barang mainan, ternyata saya juga senang mengumpulkan barang-barang kecil yang sekiranya itu mempunyai hubungan sejarah atau cerita masa lampau. misal saja, dalam kumpulan barang-barang kecil itu ada beberpa plastik yang lucu, yaitu plastik bungkus pernak-pernik yang saya beli dari Strowberry, Cerry, Naughty, dan tempat-tempat penjualan pernak-pernik lainnya. benar-benar diluar dugaan, plastik itupun sudah terkumpul lumayan banyak. Sebenarnya, saya menyimpan plastik itu bukan karena apa-apa, semua hanya karena plastiknya lucu dan (mungkin) suatu saat aku akan membutuhkannya. 

Hal lain yang membuat teman saya terpingkal adalah simpanan potongan rambut..(hahaha). Kesannya memang sedikit jorok, namun saya sudah menyimpan potongan rambut ini selama beberapa tahun, sekitar 3 tahun. Sebenarnya itu rambut tidak ada tidak ada istimewanya, namun beda buat saya karena ini rambut adalah hasil potongan rambut saya untuk pertama kalinya di Jogja. Saat itu, di malam hari (lupa kapan tepatnya), namun bertepatan pada awal tahun 2010 saya sedang badmood, gerah, dan juga entah apa yang kurasa. benar-benar campur aduk. malma itu juga aku menangis semalaman karena merindukan seseorang yang terkasih dan juga ortu. Maka pagi harinya saya memutuskan untuk minta tolong kepada teman kos agar rambut ini dipotong saja. Setelah semua terjadi, rasa penyesalan menjalar dalam tubuh ini, maka kuputuskan untuk menyimpannya. Dan sekarang, aku menemukannya kembali. semua kenangan itu serasa hadir secara nyata di pelupuk mata. Begitu indah dan menyenangkan mengingat kenangan, mesi kenangan itu tak semanis gula jawa.. (hahaha), karena kenangan adalah sejarah hidup yang harus diingat untuk memperbaiki mutu hidup selanjutnya.

Selian dua hal itu, masih ada banyak hal lain yang itu membuatku terpingkal dan juga melas. Yah, kenangan itu untuk sementara harus disimpan. Dan lain kali harus dibuka kembali pada saat yang tepat.

Kini, beberapa barangku sudah siap untuk terbang ke Pati.... (yeyyy).

Kamis, 14 Juni 2012

Ibarat Teh dan Kopi

Teh ini menghangatkan jiwa,
Kopi itu menyegarkan jiwa, 
seperti halnya selingkuh, 
kopi dan teh tak bisa di minum bersamaan.

Itu adalah puisi hidup, dan tulisan ini terinsprasi dari teh hangat yang saya minum malam ini, juga terinspirasi dari pengalaman hidup masa lalu.

kalau teman tahu gimana rasa selingkuh, saya kira semua akan setuju dengan puisi itu. karena orang selingkuh itu benar nikmat adanya, indah dirasa. tapi, itu semua kalau bisa membagi dan memanage dengan baik. 

Ibarat kopi dan teh, adalah dua insan yang memiliki karakter, sikap dan sifat berbeda. Pasti kalau dijadiin satu bakal menjadi lengkap. Namun, andai kopi dan teh itu dicampur aduk jadi satu, pasti akan menghasilkan rasa yang entah gimana jadinya.

Begitulah juga dengan selingkuh. kalau sie pelaku bisa membagi dengan baik, bisa menyesuaikan kebutuhannya, maka semua akan indah. 
kalau sie pelaku tidak bisa mengatur, maka hancurlah semua harapan itu.

So, jangan berharap dengan indahnya kemanisan hidup yang semu.

Percayalah! semua itu pasti tak akan bertahan lama. Pintar atau tidak, semua akan bergejolak mengungkapkan kebenarannya, baik secara langsung dan cepat ataupun lambat.

Perlu diketahui, Kopi dan Teh tetap memiliki kandungan kafein, meski kandungannya berbeda. Maka dari itu hati-hatilah dengan urusan yang satu ini. jangan sekali-kali memainkan adegan "SELINGKUH" dalam sandiwara hidup.

Dalam suka juga duka.

gambar diambil dari blog orang lain.





Sabtu, 09 Juni 2012

Cerita Dari Pulau Seberang #1

Sore hari, di hari sabtu tepat tanggal 09 juni sang mami tercintapun telpon dari pulau seberang, yaitu pulau Jambi. Kali ini jangan bayangkan tentang Jambi perkotaan. Karena my mom and pap berada di pelosoknya Jambi. menurut kisah dari ibuku, rumahnya ada dibawah pohon karet, tempat biasa mereka menyadap karet. Sebenarnya saya tidak tahu pasti, tapi menurut alamat yang tertera dalam bukti kiriman wesel, alamat berada di desa Suo-suo, Muarate, Jambi (parah.. akupun tak tahu dimana lamat pastinya.hahaha = kata bapakku gak tahu gak pa2, besok aja kalo punya kesempatan didatangi langsung, dan katanya lagi itu tidak akan menjadi tempat tinggal selamanya. Tetap (insya Allah) selalu akan di Pati).

Bulan Juni sudah memasuki bulan ke 8 my parents di tempat tersebut. Bukan merupakan keinginan mereka untuk melancong samapi negeri seberang, namun itu semua adalah sebuah keharusan yang mereka ambil (semacam tidak ada pilihan lain). Memang, inginnya saya melarang. tapi apalah daya, saat ini saya masih belum bisa. dan semoga tahun besok setelah kelulusan saya, mereka benar-benar bisa stay at home (amin..).

Meski begitu, mereka tetap bahagia. dengan sabar mereka telpon, paling tidak seminggu sekali. tanya kabar, basa-basi, atau bahkan sekedar ingin mendengar suara meski wajah tiada sua. Oiya, satu hal lagi, selain kedua orangtuaku, yang turut serta ke negeri seberang adalah kakak sepupuku beserta istri tersayang dan jagoan kecilnya yang berumur 1 tahun. Eits, tapi sekarang sudah masuk 2 tahun ding. tiap kali ortuku telpon, pasti akan ada selintas suara Bagas (nama ponakan kecilku) yang nimbrung untuk mengobrol. meski ngomongnya belum lancar, tapi hati ini serasa bahagia bisa mengobrol dengan ponakan tersayang (haha).

Tiap kali telpon, pasti ada saja yang jadi bahan cerita. Entah itu tentang sekolah, Skripsi (sebenarnya radak pedih kalo ibu tanya hal ini), tentang kesehatan, atau apapun yang ingin kita bicarakan. Hal yang menyenangkan dan mengesankan adalah ketika menyimak kisah ibuku. Banyak hal yang diceritakan ibuku, tergantung musim dan selera (haha).


 Dulu, waktu musim durian, ibuku tidak tanggung-tanggung cerita betapa banyaknya durian disana, kata beliau seperti barang yang tak berharga. kalau pengen, tinggal datang saja ke kebun, niscaya bisa langsung ditemui durian matang yang sudah jatuh. tiap hari ibuku bisa habis 4 durian, dan itu durian yang langsung jatuh drai pohonnya. Akupun ngiler menengar ceritanya, karena tahu sendiri di Jogja mahal nian harga durian, meski itu saat musim-musimnya.

gambar durian. (Diambil dari blog orang lain)


                                                                   
Dan sore ini adalah cerita tentang hewan dan tempat wisata. Karena di sana rumahnya di bawah pohon karet, otomatis pastilah sangat rindang dan adem. Tapi ngeri juga sih, karena menurut penuturan ibuk, disana sangatlah banyak hewan berkeliaran, salah satunya adalah kera. Sebenarnya ada tiga macam jenis hewan yang berbentuk seperti kera, tapi yang dua aku lupa namanya (sedikit sulit untuk menyebut namanya = tapi, hewan ini yang satu memiliki ekor panjang, dan satunya tidak ada ekornya. Semoga besok kalo ditelpon aku ingat untuk menanyakannya lagi.hahaha). Hewan lain yang bisa ditemukan di sekitar adalah luwak, gajah, berbagai macam burung, dan ulat-ulatan. 
Ngomong soal kera atau luwak, ternyata mereka malu kalau ketemu manusia. Bahkan saat dipandangpun mereka tak mau melihat ke arah manusia. kala manusia melewati mereka, maka mereka akan menghindar. maka itu, saat aku mengungkapkan agar dipotoin salah satu dari mereka bapak tidak menyanggupi. Ya sudahlah, itu tak jadi masalah. Dan pernah sekali aku minta agar bapak membawa pulang salah satu kera tersebut. namun,  itu sudah pasti tidak akan bisa, karena tahulah kendaraan umum tidak memperbolehkan penumpang membawa hewan. Selain itu, warga di sana tidak bisa sembarangan membawa hewan yang hidup di sana karena tempat tersebut merupakan bagian dari wisata Satwa Langka. 



Terkhir dari cerita, di sana sering hujan. Jadi, kedua orangtuaku lebih banyak menghabiskan waktu dirumah bersama ponakan kecilku. 

#Harapku, semoga puasa dan lebaran kali ini kami bisa berkumpul.
amin ya Allah.... :-)