Tampilkan postingan dengan label fiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fiksi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 18 November 2016

Hujan! Ngaji Gak Ya?

Kringggg… Kringg……
“Tara, ada telpon tuh. Tolong diangkat, nak.” Teriak ibu dari dalam kamar.
“ Iya, Bu.” Tara sedikit mempercepat langkahnya agar bisa segera mengangkat gagang telepon.
“Tara, aku hari ini gak berangkat mengaji. Di sini hujan. Dan aku takut kehujanan” suara Ken dari seberang terdengar sedikit tergesa. Lalu telpon ditutup.
“Ah, Ken selalu begitu. Ada apa dikit gak mengaji. Hujan dikit gak mengaji. Ayahnya pulang dari luar kota gak mengaji. Sekolah juga gitu. Banyak banget ijinnya.” Gerutu Tara kesal.
“Ada apa, Tara?” Tanya Bunda menghampiri Ken yang tampak kesal.
“Itu, Bu, Ken. Lagi-lagi Ken gak masuk mengaji gara-gara hari ini hujan. Padahal kan hujannya gak deras banget. Lagipula Ken bisa minta diantar ayahnya pakai mobil. Apa Tara gak usah berangkat ngaji juga, Bu?” Tara sedikit bimbang. Ken adalah teman Tara di sekolah sekaligus teman mengaji. Teman Tara dan Ken tidak banyak yang mengaji di tempat mereka mengaji. Teman-temannya lebih suka mengaji di mushola dekat rumah daripada di tempat tara dan Ken mengaji yang jaraknya lumayan jauh dari rumah.
“lho? Kok mau ikutan gak masuk? Kan bisa diantar Ayah. Lagian, hujannya gak deras banget lho, nak.” Jawab ibu sambil tersenyum seakan mengingatkan ucapan Tara.
Tara, anak gadis kecil usia 10 tahun kelas lima Sekolah Dasar. Orang tuanya selalu mengajari untuk berangkat sekolah ataupun mengaji tepat pada waktunya. Tidak membolos atau ijin kecuali memang ada hal yang penting atau darurat. Kalau hujan turun, Tara diantar oleh Ayahnya atau saudara agar Tara tetap bisa mengikuti kelas mengaji. Hal tersebut, tidak hanya berlaku untuk Tara. Ayah dan Ibu Tara juga melakukan kewajibannya meski hujan turun, misalnya saja Ayah tetap berangkat kerja di saat hujan turun dan ibu tetap berangkat mengajar meski hujan turun. Bagi keluarga Tara, hujan bukanlah halangan untuk melakukan aktivitas ataupun kegiatan yang berhubungan dengan kemaslahatan umum. Hujan adalah anugerah dari Allah. Selama hujan turun tanpa badai, mari kita tetap beraktifitas.


Kamis, 17 November 2016

Key Tidak Punya Baju!

Dia merasa tidak puas. Baju yang bertumpuk-tumpuk  terasa tidak memiliki baju. Semua warna ada, semua model juga dia punya. Merk yang paling beken hingga abal-abal juga ada di dalam almarinya. Namun, dia masih gelisah. rasanya, Semua jelek!
“saya tak mau pergi, Yah! Saya di rumah saja jaga rumah dengan nenek!" Katanya dengan suara keras.
“Kenapa begitu?” tanya ayahnya dengan nada kalem. Lalu, ayahnya menghampiri anak semata wayang yang duduk termenung di sudut kamar tidur.
“Lihat, yah. Baju saya tidak ada yang bagus. Semua sudah jelek dan tidak ada yang pas untuk menghadiri acara ulang tahun Satria.” Keluh Keysha pada sang ayah.
“benarkah itu?” Tanya ayahnya heran. “bukankah minggu kemaren Key beli baju dengan BUnda?” ayah melanjutkan pertanyaannya dan menghampiri tumpukan baju yang berantakan.
“Iya” jawab Key tak bersemangat. “Baju baru yang Key beli dengan bunda kan sudah dipake kemaren, yah”. Lanjut Key serasa ingin dibenarkan.
“coba lihat, baju ini bagus, nak. Cocok buat dating ke acara ulang tahun satria.” Ayah menyodorkan baju warna biru muda yang anggun di hadapan Key. Key hanya melirik.
“itu baju sudah pernah Key pake dating ke acara Ulang tahun Mala teman satu kelas Key dan satria” Jawab Key lesu.
“lalu, Key mau pakai baju yang mana?” Tanya ayah tetap sabar.
“Entahlah. Key tak ingin datang saja, yah.” Key mendesah.
“Bunda Key sudah di sana. Bunda pasti sudah menunggu. Dan jika Key tidak datang, Satria akan kecewa. Key tahu? Key adalah sepupu satria yang sangat disayangi.” Ayah berkata dan masih sibuk mencari baju di deretan baju-baju Key yang berjajar di lemari gantung.
“Baiklah.” Key mengalah dan melangkahkan kaki ke dekat ayahnya. Mereka memilah satu persatu baju yang berjajar di lemari gantung dan juga di deretan tumpukan baju yang di lipat rapi.
Akhirnya, Key menemukan baju yang pas dan mereka berangkat ke acara ulang tahun Satria.
Sepanjang perjalanan, seperti biasa Ayah dan Key mengobrol kesana-kemari.
“Key” ayah memanggil lirih
“iya, yah” Key menjawab
“kamu tau kenapa Key merasa tidak punya baju padahal di lemari ada baju begitu banyak dan masih bagus?” Tanya ayah
“karena………………”
“karena Key belum bisa mensyukuri apa yang sudah Key punya” ayah Key memotong. Lalu ayah melanjutkan. “dan jika Key tidak bersyukur, Key akan begitu terus. Merasa tidak punya padahal masih punya. Dalam hal apapun ini, nak. Jadi, belajarlah bersyukur agar apa yang sudah Key punya bisa dinikmati dan dimanfaatkan dengan baik.”
“coba lihat anak itu, Key” ayah Key menunjuk keluar. Di seberang jalan ada anak kecil yang menjajakan sebuah Koran. Anak kecil itu berpenampilan sederhana, kaos oblong dan celana pendek yang sudah berwarna usang. Tapi anak kecil itu selalu tersenyum di sela-sela dia menjajakan korannya.
Setelah Key memerhatikan gerak anak kecil si penjual Koran, Key menatap ayahnya dan berkata. “Iya, yah. Seharusnya Key bersyukur. Dan tidak seharusnya Key menganggap barang yang sudah Key pakai beberapa kali adalah barang jelek dan tidak layak pakai yang harus di buang. Semua bisa dimanfaatkan, baik untuk kita sendiri atau orang yang membutuhkan”
Ayah tersenyum, dan senyuman itu disambut senyum bahagia Key.  Lalu, mereka turun karena ternyata sudah sampai di rumah Satria.

Senin, 25 Februari 2013

Kamu dan Cerita

Ceriamu sadarkan jiwa, bahwa hidup itu indah
Tak ada yang harus disesalkan
Terimalah, syukuri semua nikmat yang tersaji.

Tawamu sadarkan pikir, bahwa masalah itu berkah
Tak ada yang perlu ditakutkan
Terimalah, hadapi semua soal yang ada
Tuntaskan hingga kau temukan intan berlian
dibalik tugas beratmu.

Tentangmu tak pernah habis,
datang pergi suguhkan cerita.
manis duka santapan harian.

gambar diambil dari www.encrypted-tbn2.gstatic.com





Sabtu, 06 Oktober 2012

Manusia, Tiada Puas!

Malam telah tiba, dan aku ingin segera pagi
Pagi mulai menyapa dunia, namun aku ingin segera siang
agar aku bisa melakukan banyak hal,
agar malampun segera tiba kembali.
Dan, aku akan baringkan penat,
hilangkan dahaga, juga tentramkan jiwa dari kegaduhan dunia.

Ah, sungguh ku tak tau apa yang kuharap.

Satu dua aku mencari
agar ku dapat, ingin kuraih
segala asa, tiada terbatas

Sekolah Dasar terlampaui,
Masuk Menengah, namun kadang ingin kembali 
juga ingin lebih atas
apa yang ku mau?
tiada puas yang ada,
ingin ke sana juga ke situ.
Sungguh banyak mau!
hingga pikir tiada lagi menampung. 

Hingga kini, aku tiada puas
ingin gapai langit, ingin gapai bulan, juga ingin gapai bintang
Namun sayang, hati tiada kuasa
mata nanar memandang, pikir panas melayang

Ah, jiwa ini letih
namun angan tiada lelah
maka, ingin ku seimbangkan raga
dalam angan, juga rasa yang tiada pernah terpuaskan.


Rabu, 14 Maret 2012

Katresnan

Rikala semana, sliramu iseh kinyis-kinyis,
lan aku iseh isin-isin,
ketemu ana ngarep sekolah,
adu plerok, adu esem,
atiku rasane mak pyar,
ora ngerti apa sebabipun.

Aku ora ngerti,
mung pitakon ana ati,
kang tansah ngresula ing pikir.
ladalah.....
iki aku kesambet apa,
dadi ayu, malah kemayu.

ora pisan ora pindho,
sliramu pating sliwer ana ing pikirku,
gawe ruwet ana ati,
nanging dadeke esem tanpa leren.

saiki, nem tahun wis kapungkur..
cerita jaman semana tetep ana ing ati,
sliramu uga isih tetep kinyis-kinyis,
lan selot suwe aku tambah tresna marang sliramu. 



Kamis, 12 Januari 2012

Sudah Menjelang Pagi, Ada Apa dengan Parcen? # Akhir cerita

Hati kecil dan Hati besar menyadari bahwa mereka bukanlah manusia seperti kebanyakan manusia yang bisa dilihat secara nyata. dia hanya bisa dirasa oleh sang empunya. Mereka berpikir keras, sambil berguling juga berloncat, yang akhirnya hati besar mengemukakan ide briliannya.

"Hey, kecil.. ngapain kamu bengong gitu?" tanya hati besar sambil cengengesan.
"Jangan ganggu aku, besar.. aku lagi berpikir nyari cara agar Parcen tidak lagi bermuram durja.. tak tega aku ngeliatnya.. la kamu, ngapain cengengesan?? bukannya ngasih ide malah senyum gak jelas... kayak Supar aja kamu, sukanya ketawa gak jelas di pasar Bulumanis". Hati kecil sewot.
"Ah kamu... kok langsung ngatai aku gitu seh.. sebel!" jawab Hati besar tak terima.
"lho lho... kamu kok malah ikutan ngambek.. gimana ini..??" Hati kecil bingung.

Walhasil, mereka malah diem2an tanpa solusi.
"Besar,, jangan ngambek gitu... kalo kamu ngambek kasian Parcen, nanti dia sedih terus...kamu punya ide gak?hati kecil merayu hati besar.
"tadinya aku punya ide... tapi hilang mood gara-gara kamu gitu." Hati besar sok jual mahal.
"Tapi ya Cil... biasanya orang tu lebih suka dengerin kata Hatai kecil lho.. nah, kalo kamu punya ide yang menarik atau yang nyenengin coba aja diungkapkan. siapa tau ucapanmu terbawa hembusan angin dan nyantol di telingan Parcen terus meresap dalam sanubari dan bisa sedikit ngobatin Parcen. how?" Hati besar menjawab sekenanya, yang memang nanti itulah jawabannya...
"It's great!! tumben kamu pintar." Jawab Hati kecil memuji temannya.
Hati besar tersenyum ria karena diakuin kepintarannya. jarang-jarang hati kecil mau muji sesama hati yang lain.
"Yaudah, kamu mau gimana?" hati Besar membujuk lagi.
"Biasanya se kalau aku melihat kebanyakan orang yang lagi bete-bete gak jelas gitu biasanya mereka ambil wudlu, sholat, baca al-qur'an, atau baca buku, atau malah tidur. nanti habis itu biasanya mereka kembali normal.. semua tergantung masalahnya kok, Sar." Jawab hati kecil sok tahu.
"o gitu ya..."jawab Hati besar manggut-manggut sok tahu.
"kalau gitu kamu mau nyaranin Parcen apa?" lanjut Hati besar bertanya.
"la kalau kamu milih apa diantara yang semua tadi?"balas Hati kecil balik bertanya.
"semuanya" jawab Hati besar.
"Gimana caranya?"Hati kecil tak mengerti.
"Diurutin satu-satu, cil.. dari wudlu-sholat-baca Al-qur'an- baca buku- dilanjut tidu- dan semoga nanti pas bangun udah seger." jawab Hati besar antusia.
"Wah... kamu hebat, Sar. ok.. langsunng tak titipin lewat angian ya biar disampaikan ke Parcen. jawab Hati kecil bahagia.
"ok, Cilll" jawab Htai besar mantab.

Selang beberapa menit kemudian, angin berhembus pelan mengenai tirai kamar Parcen dan berlanjut mengibatkan rambut kusut Parcen.
Parcen menengok ke arah jendela sambil bergumam...

Angin.. 
hembusanmu yang lembut
tambahkan rindu dalam sanubari
kepada kekasihku nan jauh di sana
juga kedua orang tuaku yang ada di seberang pulau...

Angin... 
sampaikan salamku buat mereka orang-orang yang ku sayang..
Semoga mereka baik-baik saja di sana..

Tak lama kemudian Parcen beranjak dari tempat duduknya sampik mengibas-ngibaskan rambutnya yang penuh ketome karena tiga hari belum dikeramas. Lalu Parcen mengambil buku diary berwarna biru dan menuliskan sesuatu diatas kertas.
Rindu ini benar-benar membuatku gundah semalaman. 
Aku ingin kalian baik-baik saja di sana.
Dalam setiap desahan nafas aku selalu berdoa untuk kalian semua..

Setelah itu dia menutup buku dan menaruh di tempat semula. 
lalu Parcen melangkahkan kaki ke kamar mandi dengan senyum yang mengambnag di bibir manisnya.

Hati kecil dan Hati besarpun tersenyum bahagia.

Kamis, 24 November 2011

Sudah menjelang pagi, Ada apa dengan Parcen?? #II

Saat hati besar pergi, hati kecil dan hati sedang hanya bisa bengong tak mengerti. Garuk-garuk kepala, lalu akhirnya mereka cubit-cubitan. Namun anehnya Parcen gak merasa terganggu karena ulah mereka.

Diam lalu tersenyum
beralih pandang, sedikit geser pantat,
geleng-geleng kepala, rambutnya serta berayun
lalu bermuram durja
mata berkedip, tersenyum,
kembali bergeleng-geleng kepala 

Hati sedang dan hati kecil mengikuti semua gerak-gerik Parcen yang tak biasa itu. Biasanya Parcen selalu tersenyum, selalu ceria dalam keadaan apapun. Bahkan Parcen tidak menangis kala kakek tersayangnya pulang  Ke Rahmatullah. Saat ditanya oleh Parti kenapa dia tidak menangis, Parcen menjawab dengan santai dan terlihat sangat tabah yaitu karena Parcen kakeknya pulang dengan hati yang tenang, dan juga tersenyum. karena kalau yang ditinggal oleh kakek menangis dan gak ikhlas atas kepergiannya maka kakek akan berat untuk melangkah dan melakuan segala aktivitas yang sudah harus dilakukan di dunia lain itu. Dan ajaibnya, Parti mulai mengurangi tangisan derasnya dan Parti tidak guling-guling lagi karena menangis. Parcen senang atas hal itu, lalu mereka berpelukan. 

Tapi, kenapa Parcen sekarang tak lagi seperti Parcen yang dulu? 
wajahnya tampak berkerut seperti orang yang tak tau arah, berkerut-kerut menyiratkan banyak hal dan masalah yang sedang menghampiri dirinya. Hati kecil dan hati sedang yang dari tadi ribut mendebatkan ada apa dengan Parcen tiba-tiba sepakat memandang Parcen dengan hati iba. 

"Bagaimana kalau kita hampiri Parcen?" tanya Hati kecil melas.
"Ngapain? nanti kalau dia malah nangis gimana?" jawab hati sedang melas juga.
"Kan bagus malah.. nanti kita siapkan dada kita yang lapang buat Parcen agar dia bersandar pada kita, terus Parcen bercerita mengungkapkan semua kegundahannya pada kita, kayak di film-film picisan itu lho... " jawab hati kecil dengan semangat. 
"itu kan kalo cowoknya.. la ini, siapa loe?" jawab hati sedang meremehkan. 
"Tapi kan......" 
"Tapi apa?" hati besar menyela dan memandang hati kecil.
mereka berdua akhirnya saling pandang dan tertawa terbahak... hahahahahahahahaha

"bagaimana kita bisa melakukan itu semua?" tanya hati kecil menyadarkan.
Dan akhirnya mereka berduapun sadar bahwa mereka bukan manusia biasa... 
"Apa yang harus kita lakukan agar Parcen bisa kembali seperti semula?" gumanya hampir bersamaan.

Minggu, 13 November 2011

Namun Sayang, Semua Ini Bukan Mimpi


Aku tak akan memaksamu untuk mencintaiku. Tapi aku hanya ingin kamu memberi aku kesempatan untuk mengungkapkan perasaan. Aku tak akan pernah peduli kalau nanti kamu akan benci padaku atau kamu akan menjadikan aku sebagai musuh hidupmu. Aku tak akan peduli sama sekali, yang penting kamu memberi kesempatan untukku.
“ Hai, Bram. Kamu ngapain disini?” tanyaku pada Bram yang sedang berdiri tidak bersemangat ditepi pintu kelasku.
“Aku menunggumu,San.” jawabnya lesu.
“Menungguku? Buat apa?” tanyaku tak mengerti.
“Aku pengen ngomong sesuatu. Kalau kamu bersedia, sekarang kita ke kantin yuk.” Ajak Bram sambil menyeret tanganku.
“Tapi, Bram..” aku mencoba mengelak dan mengambil tanganku kembali. Namun, dia terlalu kuat memegang tanganku jadi mau tak mau aku tetap mengikuti langkahnya yang panjang-panjang.
Sesampai di kantin aku hanya diam tak banyak bicara. Begitu juga dengan Bram, dia hanya diam dan sesekali tampak melirikku.
Aku mulai jengah dengan keadaan seperti ini. Maka dengan hati yang tak karuan aku mencoba membuka mulut.
“ Katanya mau ngomong. Kok malah diam?” tanyaku sambil memandangnya yang tampak lesu.
Hanya desahan nafas panjang yang dia berikan, lalu dia tersenyum sambil memandangku dan kembali pada sikap awalnya, diam.
“Kamu kenapa, Bram? Apakah ucapanku seminggu yang lalu telah mengganggumu?” tanyaku mulai menduga-duga. Aku jadi teringat kejadian seminggu yang lalu, dengan kenekatan aku menyatakan perasaanku pada Bram. Tanpa tedeng aling-aling dan sangat gamblang aku mengatakan perasaan cintaku pada Bram. Aku jadi geli dan sedikit menyesal kalau mengingat hal itu. Bagaimanapun juga aku cewek normal yang masih menjunjung tinggi adat ketimuran. Tapi, aku tak ingin menyesal di hari kemudian hanya karena menyimpan cinta yang tak tersampaikan. Aku tak ingin hidup dalam kepura-puraan.
“San, aku ingin bicara sesuatu padamu. Tapi, kukira tidak sekarang. Mungkin lusa.” Lalu dia meninggalkanku dalam sendiri.
Huh, gimana sih. Tadi memaksa, e sekarang mebiarkan aku begitu saja. Enak saja kau mempermainkan aku. Hatiku sangat kesal dengan perlakuannya yang seenak udelnya itu. Padahal hari ini aku ada janji dengan omku yang baru pulang dari Beijing. Akupun terlonjak kaget menyadari jarum jam yang sudah nangkring di angka 03.15. Oh no.... mati aku! Berarti aku tadi hanya duduk gak jelas selama kurang lebih 1 Jam? Rese banget tu si Bram. Mentang-mentang aku suka padanya terus dikira semua waktuku hanya untuk dia.. tidak Bram! Jangan anggap aku sama dengan cewek lain. Aku segera mengambil langkah seribu dan segera mengendarai motor bebekku yang sudah tua. Aku melaju dengn hati dongkol, namun ada perasaan bahagia yang diam-diam menyusup dalam relung jiwaku.
 Sesampai dirumah ternyata benar, omku yang cakep, yang baru saja pulang dari luar negeri dan menyelesaikan S2nya dijurusan Manajemen Ekonomi itu sudah berkacak pinggang dengan memamerkan wajah manyunnya. Aku hanya cengar-cengir lalu menyapa om Bejo.
“ Siang, om. Maaf ya Sania baru pulang. Tadi ada trouble di sekolah. Jadi Sania harus menyelesaikannya dulu.” Lalu aku segera meluncur kedalam kamar tanpa menunggu jawaban omku dan aku berdandan ala kadarnya, sekedar menghilangkan minyak yang mulai membanjiri wajah imutku.
“Sania cepatlah sedikit. Ommu sudah menunggu tu didalam mobil. Kayaknya dia sudah pengen segera menikmati pemandangan yang ada di sudut kota Pati ini.” Ibu tiba-tiba masuk kedalam kamarku yang memang tidak terkunci dengan membawa secangkir susu milo kesukaanku.
“iya, bu. Ini Sania sedang siap-siap kok.” Jawabku enteng lalu langsung mengambil milo yang dibawa ibu dan cepat-cepat aku meneguknya. Lalu, dalam hitungan menit aku sudah duduk disamping omku yang masih berwajah muram. Namun, ketika om Bejo menyadari aku duduk riang disampingnya, om Bejo langsung menyunggingkan senyum termanisnya.
“ Sudah siap?” tanyanya basa-basi.
“ Sudah, om. Ayo sekarang kita meluncur menelusuri kota pati dan pelosok yang ada  di perbatasan kota Pati dengan Jepara, Kudus, Purwodadi, Rembang, dan Blora.” Aku menjawab antusias meski tahu bahwa dalam hitungan jam aku tak akan bisa menelusuri semua itu. Karena kota Pati sangat luas, belum lagi desa-desa yang ada di kota Pati itu. Uh... bayak dan luas sekali, dan aku belum pernah menjelajahi semua sudut yang ada di Pati.
“ Kamu itu gak berubah dari dulu ya. Selalu riang dan gak pernah punya beban. Apa sudah ada cowok yang beruntung memilikimu?” tanya om Bejo tiba-tiba.
“ Yaelah, om. Kok segitu amat sih. Sania kan sudah berubah, om. Sekarang lihat dandanan Sania. Sudah gak kayak dulu lagi kan.” Jawabku sekenanya.
Om Bejo tersenyum menyadari perubahan fisikku yang semakin sempurna. Lalu, om Bejo mengacak rambut cepakku dan melanjutkan menyetirnya dengan sangat santai.
“ Lho, om, kok ke Kajen? Mau ngapain,om?” tanyaku sedikit kesal karena tadi om tidak bilang kalau mau ke Kajen. Kalau tahu mau ke Kajen aku pasti tidak menggunakan kostum yang lebih cocok di pakai di pantai. Karena tahulh Kajen itu tempatnya para Santri yang belajar ilmu agama. Kalau aku pakai baju serba terbuka gini kan gak enak. Sungutku dalam hati.
“ Ayo. Ikut turun nggak”? tanya om sambil melongokkan kepalanya di jendela pintu mobil yang terbuka.
“ Tapi, om, Sania kan kayak gini.” Jawabku polos sambil menunduk melihat kaos ketatku.
“ Yaudah gak pa-pa. Tu di kursi belakang ada jaket. Kamu bisa memakainya kalau kamu memang malu berkostum seperti itu. Tapi kamu cantik kok kayak gitu.” Jawab omku genit sambil mengerlingkan matanya.
Dengan ogah-ogahan aku mengambil jaket yang di maksud omku. Lalu aku turun dengan langkah gontai.
Namun, tiba-tiba mataku kembali mengerling ceria.
“ Om, tunggu sebentar disini.” Aku meninggalkan omku dalam kebingungan.
Dalam hitungan detik aku sudah kembali dengan wajah yang berbeda. Kini aku tampil layaknya santri yang sedang berbondong-bondang sambil membawa buku tebal-tebal yang sering mereka sebut kitab kuning.
Omku hanya geleng-geleng kepala sambil tersenyum melihat perubahanku.
“ Dari mana kamu dapatkan itu semua, San?” tanya om Bejo sambil melihat baju yang kupakai. Ya, kini aku memakai baju berkurung lengkap dengan atribut kerudung dan bros manisnya yang berwarna biru.
“ hahaha, om, om. Kayak gak tau Sania aja. Kan sania banyak kenalan di sini.” Jawabku sambil tersenyum manis dan berlagak anggun.
“ Kamu cantik memakai baju seperti itu. Tampak lebih anggun dan santun.” Om Bejo memujiku.
Tiba-tiba aku tersipu malu. Karena jujur, banyak yang bilang aku lebih cantik memakai baju muslimah. Dengan kerudung yang di tata layaknya Inneke Koeserawati, baju kurung dan celana sedang yang membalut tubuh idealku. Aku tampak sebagai gadis anggun yang dewasa. namun, aku segera tak mengindahkan kata-kata omku.
“ Kita mau kemana ni, om?” tanyaku mengalihkan topik.
Om Bejo tampak bingung mencari jawaban yang pas. Tapi, om Bejo malah meminta aku supaya menggandeng tangannya sebelum kami memasuku sebuah rumah makan sederhana.
Aku dan om Bejo masuk sambil tertawa-tawa mesra, dan di deretan ujung tampak ada cewek yang memerhatikan kami dengan wajah yang sedikit di lipat kebawah.
“Assalamu’alaikum, Fara.” Sapa om Bejo pada gadis yang sedang melipat wajahnya. Aku sendiri tak tau siapa gadis manis itu.
“ Siapa, om?” tanyaku berbisik. Namun om Bejo tidak memperdulikan pertanyaanku. Lalu om Bejo mempersilahkan aku duduk di sampingnya. Aku sedikit risi dengan yang dilakukan om Bejo. Gimana tidak? Aku diperlakukan layaknya permaisuri. Padahal aku adalah keponakannya. Tapi aku hanya menuruti perintahnya saja.
“Wa’alaikum salam, mas Bima.” Jawabnya sopan namun sambil menyembunyikan wajahnya yang masih menyiratkan kemurungan. Memang benar kalau gadis yang dipanggil Fara itu memanggil om Bejo dengan panggilan mas Bima. Karena nama om Bejo sebenarnya Bima Prawira. Entah gimana ceritanya akupun gak begitu paham kenapa dari nama yang bagus itu om Bejo bisa di panggil Bejo. Tapi kata ibuku semua itu terjadi begitu saja karena alur nasibnya yang sering mendapat keberuntungan atau bejo dalam istilah jawanya.
“oya kenalkan, ini Sania.” Om Bejo memperkenalkan aku pada cewek manis yang ada di hadapan om.
“Calon istri mas Bima ya?” tanyanya menyelidik.
“Ya,,,, begitulah kira-kira.” Jawab om Bima sambil mengerlingkan matanya kearahku. Aku terlonjak kaget dengan jawaban itu, namun om Bima segera mencubit tanganku memberi isyarat. Dan akupun langsung paham apa yang dimaksudkan omku itu. Maka, aku segera  melakukan apa yang harus kulakukan meski sebelumnya gak ada perjanjian kalau aku harus berakting sebagai calon istrinya.
“ Perkenalkan saya Sania Prasidyawati.” Aku mengulurkan tangan padanya.
“Aku Fara. Jawabnya sambil menjabat tanganku.
Perbincanganpun terjadi diantara kami. Namun terasa ada yang kaku antara aku dan Fara. Fara sedikit sinis terhadap aku. Sebenarnya aku ingin segera menyudahi aktingku yang terkesan berlebihan itu, namun om Bejo hanya tersenyum jika sudah melihat wajah Fara yang memperlihatkan cemburunya. Begitu juga dengan aku yang rada geli dengan hal konyol ini. Entah apa yang ada dipikiran om Bejo aku tak pernah tahu.
“ Fara, aku pengen kita ngobrol berdua saja. Bolehkah?” tanya omku pelan.
“Berdua saja? Kenapa harus berdua? Terus Sania gimana?” tanya Fara sedikit kaget namun ada juga kebahagiaan yang terpancar dalam wajah manisnya.
“ Sania ya biar menyingkir kemana gitu dong. Iya kan San?” jawab om sekenanya.
“Iya, gak papa.” Jawabku santai. Namun aku merasa seperi kulit kacang yang dibuang setelah isinya diambil. Namun bukan om Bejo kalau gak seperti itu. Maka tanpa menunggu komando yang kedua kalinya aku segera berdiri meninggalkan mereka berdua.
“ Jangan pergi jauh-jauh lho, San. Aku Cuma butuh waktu sebenta saja.” Om Bejo mengingtkanku.
“ Sip deh.” Jawabku sambil berlalu.
Aku tak tahu kenapa om Bejo melakukan hal konyol itu. Tiba-tiba aku disuruh berakting jadi calon istrinya, tapi sekarang disuruh pergi meninggalkan mereka hanya berdua. Sebenarnya siapa ya Fara itu? Tanyaku dalam batin. Setauku om Bejo itu belum punya cewek ataupun caln istri deh. Tapi siapa ya dia?
Aku masih saja membatin dalam ketidaktahuanku. Namun aku segera mencari tempat yang asyik buat duduk. Lalu aku memutuskan pergi ke butik baju milik kenalan omku yang dulu, beberapa tahun yang lalu sering kukunjungi bersama keluarga ketika aku menengok om Bejo yang masih sekolah di SMA Mathali’ul Falah dan bertempat tinggal di asrama putra Mathal’ul Falah.
Waktu semakin sore. Akupun pamit untuk pulang. Dan betapa kagetnya aku ketika melihat om Bejo dan Fara terlihat tampak tertawa-tawa akrab. Namun, kebingunganku ku tahan sampai nanti ketika waktu sudah memihak padaku untuk bertanya banyak.
“Kenapa?” tanya om melihat aku yang bingung pada perjalanan pulang kami.
“Tadi siapa, om?” Tanyaku polos.
Lalu perjalanan kami terasa begitu cepat, dan tiba-tiba saja sudah sampai didepan rumah. Semua itu  karena om bercerita banyak tentang gadis ayu tadi beserta perjalanan hidupnya yang akhirnya dia bisa sampai lulus S2 jurusan Manajemen Ekonomi. Ternyata cewek tadi adalah putri guru om Bejo yang sudah merekomendasikan om agar bisa kuliah di China dari S1 sampai S2. Sedangkan Fara sudah lulus S2 jurusan Kedokteran. Dan om Bejo berjanji pada gurunya untuk menemui putrinya jika sudah lulus kuliah untuk segera di pinang. Aku tak pernah bisa membayangkan bagaimana tadi ekspresi wajah Fara ketika tahu bahwa dia telah dibohongi om Bejo.
“Terus gimana kelanjutannya, om? Apakah Fara akan menjadi calon tanteku?” tanyaku dengan jahil.
“ Lihat saja nanti...” Jawab om Bejo membuatku penasaran lalu turun dari mobil.
Aku bersungut mendengar jawaban itu, namun aku segera masuk kamar dan  samar-samar dari dalam aku mendengar ibuku berkomentar kalau aku cantik dengan busana muslimah. Aku tersipu sendiri mendengar itu, lalu aku mematut diri didepan cermin. Aku trkesiap melihat diriku. Ouh..... cantik juga aku. Pikirku dalam hati sambil tersenyum.
Malam hari badanku terasa capek sekali, dan sulit sekali untukku memejamkan mata. Dalam keadaanku yang tidak berdaya itu tiba-tiba aku teringat kejadian tadi siang di sekolah. Ada apa dengan Bram? Apakah dia akan bilang bahwa dia juga cinta aku? Atau.............. apakah dia akan bilang kalau dia membenciku. Aku benar-benar diambang kegundahan. Namun, dalam kegundahan itu aku merasakan angin malam yang semilir secara lembut membelai rambut dan seluruh ragaku, karena ada message di HP miniku.
Sania, maaf tadi siang aku membuatmu bingung. Sebenarnya bukan itu maksudku. Aku hanya ingin bilang bahwa aku juga sayang kamu. Besok pulang sekolah ku tunggu kamu di taman belakang sekolah. Bram.
Waktu yang ku tunggu-tunggupun tiba. Bel sekolah tanda pulang telah berbunyi. Hore... aku bahagia sekali karena aku akan segera menemui Bram, cowok yang sudah lama ku taksir. Maka buru-buru aku menyeret kaki agar segera sampai di taman belakang. Namun apa yang kulihat sungguh diluar dugaanku. Kakiku bergetar, ingin rasanya tubuhku ini jatuh. Namun, aku meyakinkan hatiku bahwa itu semua bukanlah kenyataan. Maka kupaksa kakiku agar mendekati apa yang ada di tengah taman itu. Namun sayang, semua ini bukan mimpi. Semua ini kenyataan. Tuhan........ kuatkan hatiku. Kini aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, aku melihat dengan nyata dan bukan lagi gosip murahan seperti yang ku dengar disudut ruang setiap hari, bahwa Bram cowok Play Boy. Dan bodohnya aku tak pernah percaya semua itu. Aku terlalu percaya bahwa Bram cowok baik yang sangat lembut dan perhatian. Namun, semua salah. Kini, dengan air mata yang hampir terjatuh dari pelupuk mata aku melihat Bram sedang bermesraan dengan wanita lain. Lalu, tanpa bersuara aku segera lari meninggalkan mereka sambil terisak. Sayup-sayup ku dengar dari kejauhan Bram berteriak “Sania, jangan tinggalkan aku. Aku hanya mencintaimu seorang...”


By,
Cenung Hasanah