Rabu, 14 Maret 2012

Katresnan

Rikala semana, sliramu iseh kinyis-kinyis,
lan aku iseh isin-isin,
ketemu ana ngarep sekolah,
adu plerok, adu esem,
atiku rasane mak pyar,
ora ngerti apa sebabipun.

Aku ora ngerti,
mung pitakon ana ati,
kang tansah ngresula ing pikir.
ladalah.....
iki aku kesambet apa,
dadi ayu, malah kemayu.

ora pisan ora pindho,
sliramu pating sliwer ana ing pikirku,
gawe ruwet ana ati,
nanging dadeke esem tanpa leren.

saiki, nem tahun wis kapungkur..
cerita jaman semana tetep ana ing ati,
sliramu uga isih tetep kinyis-kinyis,
lan selot suwe aku tambah tresna marang sliramu. 



Kamis, 12 Januari 2012

Sudah Menjelang Pagi, Ada Apa dengan Parcen? # Akhir cerita

Hati kecil dan Hati besar menyadari bahwa mereka bukanlah manusia seperti kebanyakan manusia yang bisa dilihat secara nyata. dia hanya bisa dirasa oleh sang empunya. Mereka berpikir keras, sambil berguling juga berloncat, yang akhirnya hati besar mengemukakan ide briliannya.

"Hey, kecil.. ngapain kamu bengong gitu?" tanya hati besar sambil cengengesan.
"Jangan ganggu aku, besar.. aku lagi berpikir nyari cara agar Parcen tidak lagi bermuram durja.. tak tega aku ngeliatnya.. la kamu, ngapain cengengesan?? bukannya ngasih ide malah senyum gak jelas... kayak Supar aja kamu, sukanya ketawa gak jelas di pasar Bulumanis". Hati kecil sewot.
"Ah kamu... kok langsung ngatai aku gitu seh.. sebel!" jawab Hati besar tak terima.
"lho lho... kamu kok malah ikutan ngambek.. gimana ini..??" Hati kecil bingung.

Walhasil, mereka malah diem2an tanpa solusi.
"Besar,, jangan ngambek gitu... kalo kamu ngambek kasian Parcen, nanti dia sedih terus...kamu punya ide gak?hati kecil merayu hati besar.
"tadinya aku punya ide... tapi hilang mood gara-gara kamu gitu." Hati besar sok jual mahal.
"Tapi ya Cil... biasanya orang tu lebih suka dengerin kata Hatai kecil lho.. nah, kalo kamu punya ide yang menarik atau yang nyenengin coba aja diungkapkan. siapa tau ucapanmu terbawa hembusan angin dan nyantol di telingan Parcen terus meresap dalam sanubari dan bisa sedikit ngobatin Parcen. how?" Hati besar menjawab sekenanya, yang memang nanti itulah jawabannya...
"It's great!! tumben kamu pintar." Jawab Hati kecil memuji temannya.
Hati besar tersenyum ria karena diakuin kepintarannya. jarang-jarang hati kecil mau muji sesama hati yang lain.
"Yaudah, kamu mau gimana?" hati Besar membujuk lagi.
"Biasanya se kalau aku melihat kebanyakan orang yang lagi bete-bete gak jelas gitu biasanya mereka ambil wudlu, sholat, baca al-qur'an, atau baca buku, atau malah tidur. nanti habis itu biasanya mereka kembali normal.. semua tergantung masalahnya kok, Sar." Jawab hati kecil sok tahu.
"o gitu ya..."jawab Hati besar manggut-manggut sok tahu.
"kalau gitu kamu mau nyaranin Parcen apa?" lanjut Hati besar bertanya.
"la kalau kamu milih apa diantara yang semua tadi?"balas Hati kecil balik bertanya.
"semuanya" jawab Hati besar.
"Gimana caranya?"Hati kecil tak mengerti.
"Diurutin satu-satu, cil.. dari wudlu-sholat-baca Al-qur'an- baca buku- dilanjut tidu- dan semoga nanti pas bangun udah seger." jawab Hati besar antusia.
"Wah... kamu hebat, Sar. ok.. langsunng tak titipin lewat angian ya biar disampaikan ke Parcen. jawab Hati kecil bahagia.
"ok, Cilll" jawab Htai besar mantab.

Selang beberapa menit kemudian, angin berhembus pelan mengenai tirai kamar Parcen dan berlanjut mengibatkan rambut kusut Parcen.
Parcen menengok ke arah jendela sambil bergumam...

Angin.. 
hembusanmu yang lembut
tambahkan rindu dalam sanubari
kepada kekasihku nan jauh di sana
juga kedua orang tuaku yang ada di seberang pulau...

Angin... 
sampaikan salamku buat mereka orang-orang yang ku sayang..
Semoga mereka baik-baik saja di sana..

Tak lama kemudian Parcen beranjak dari tempat duduknya sampik mengibas-ngibaskan rambutnya yang penuh ketome karena tiga hari belum dikeramas. Lalu Parcen mengambil buku diary berwarna biru dan menuliskan sesuatu diatas kertas.
Rindu ini benar-benar membuatku gundah semalaman. 
Aku ingin kalian baik-baik saja di sana.
Dalam setiap desahan nafas aku selalu berdoa untuk kalian semua..

Setelah itu dia menutup buku dan menaruh di tempat semula. 
lalu Parcen melangkahkan kaki ke kamar mandi dengan senyum yang mengambnag di bibir manisnya.

Hati kecil dan Hati besarpun tersenyum bahagia.

Kamis, 24 November 2011

Sudah menjelang pagi, Ada apa dengan Parcen?? #II

Saat hati besar pergi, hati kecil dan hati sedang hanya bisa bengong tak mengerti. Garuk-garuk kepala, lalu akhirnya mereka cubit-cubitan. Namun anehnya Parcen gak merasa terganggu karena ulah mereka.

Diam lalu tersenyum
beralih pandang, sedikit geser pantat,
geleng-geleng kepala, rambutnya serta berayun
lalu bermuram durja
mata berkedip, tersenyum,
kembali bergeleng-geleng kepala 

Hati sedang dan hati kecil mengikuti semua gerak-gerik Parcen yang tak biasa itu. Biasanya Parcen selalu tersenyum, selalu ceria dalam keadaan apapun. Bahkan Parcen tidak menangis kala kakek tersayangnya pulang  Ke Rahmatullah. Saat ditanya oleh Parti kenapa dia tidak menangis, Parcen menjawab dengan santai dan terlihat sangat tabah yaitu karena Parcen kakeknya pulang dengan hati yang tenang, dan juga tersenyum. karena kalau yang ditinggal oleh kakek menangis dan gak ikhlas atas kepergiannya maka kakek akan berat untuk melangkah dan melakuan segala aktivitas yang sudah harus dilakukan di dunia lain itu. Dan ajaibnya, Parti mulai mengurangi tangisan derasnya dan Parti tidak guling-guling lagi karena menangis. Parcen senang atas hal itu, lalu mereka berpelukan. 

Tapi, kenapa Parcen sekarang tak lagi seperti Parcen yang dulu? 
wajahnya tampak berkerut seperti orang yang tak tau arah, berkerut-kerut menyiratkan banyak hal dan masalah yang sedang menghampiri dirinya. Hati kecil dan hati sedang yang dari tadi ribut mendebatkan ada apa dengan Parcen tiba-tiba sepakat memandang Parcen dengan hati iba. 

"Bagaimana kalau kita hampiri Parcen?" tanya Hati kecil melas.
"Ngapain? nanti kalau dia malah nangis gimana?" jawab hati sedang melas juga.
"Kan bagus malah.. nanti kita siapkan dada kita yang lapang buat Parcen agar dia bersandar pada kita, terus Parcen bercerita mengungkapkan semua kegundahannya pada kita, kayak di film-film picisan itu lho... " jawab hati kecil dengan semangat. 
"itu kan kalo cowoknya.. la ini, siapa loe?" jawab hati sedang meremehkan. 
"Tapi kan......" 
"Tapi apa?" hati besar menyela dan memandang hati kecil.
mereka berdua akhirnya saling pandang dan tertawa terbahak... hahahahahahahahaha

"bagaimana kita bisa melakukan itu semua?" tanya hati kecil menyadarkan.
Dan akhirnya mereka berduapun sadar bahwa mereka bukan manusia biasa... 
"Apa yang harus kita lakukan agar Parcen bisa kembali seperti semula?" gumanya hampir bersamaan.

Rabu, 23 November 2011

Sudah Menjelang Pagi, Ada apa dengan Parcen??

Sudah jam 2.30, namun Parcen belum juga bisa memejamkan mata. entah mengapa, mata itu tak bisa lelap. padahal dipake belajar atau baca bukupun pasti sungguh enggan. Akhirnya dia melamun, menghabiskan malam penuh tiada guna.
"Eits... siapa bilang tiada guna?" bantah hati kecil. Meski Parcen melamun, tapi banyak hal yang bergelayut dalam pikirnya, dan kadang ada solusi atau jurus jitu yang lewat atau nyantol dalam pikirnya. Dan akhirnya Parcen senyum-senyum sendiri layaknya Saropah yang akhir-akhir ini sering berkeliaran di daerah Bulumanis dan sekitarnya sambil bernyanyi dan senyum-senyum gak jelas.
"Tu kan... Parcen jadi gila.... " bantah hati setengah."Senyum-senyum kagak jela gitu kok dibilang ada guna... mending Parcen tidur aja..." lanjut hati setengah.
"Eh.. pada ngributin apa to kalian ini..?" tiba-tiba hati besar nimbrung.
"Itu lho Parcen......." jawab mereka bersamaa.
 "emang kenapa Parcen?" Hati besar kagak nyambung.
"Parcen sedang bertapa.... mencari inspirasi." jawab hati kecil sambil tersenyum bangga.
"Tidak!! Parcen itu gila... tu kan senyum-senyum kagak jelas." Hati setengah tak mau kalah.
"Ah kalian memang masih kecil." Hati besar menjawab sekenanya.
"lho kok?" tanya mereka sambil garuk-garuk kepala yang gak gatel.
Hati besar tersenyum puas, dan meninggalkan kedua hati yang masih bingung...


Sebenarnya ada apa dengan Parcen???