Minggu, 06 Maret 2011

Paninggaran #part IV (pemotongan sapi)


Dunia ini panggung sandiwara. banyak hal yang terjadi di dunia ini dengan atau sepengetahuan kita...

Minggu, 23 januari 2011.

Matahari tampaknya sudah mulai menampakkan senyumnya, namun dingin ini tak juga kunjung pergi. Dengan mata yang berat sayapun bangun karena waktu sudah menunjukkan jam 05 kurang seperempat.
Saya langsung kekamar mandi. namun karena dingin dan di dapur ada api, maka saya duduk sebentar di depan api untuk menghangatkan tubuh. Ibu sudah selesai memasak. Kali ini ibu membuat mi goreng, mi rebus, dan sambal teri. Aahh,,, benar –benar menggoda untuk dimakan. Lalu saya langsung kekamar mandi, dan kemudian saya makan bareng-bareng dengan partner dan juga anak ibu yang paling kecil. Karena hari ini hari minggu jadi anak ibu yang kecil dan ketiga ponakannya libur sekolah. Mereka nonton TV bersama teman-temannya. Selesai makan, bapak mengantarkan Lia dan Santi pergi sekolah. Dan ibu kerumah tetangga untuk rewang.  

Sekitar jam delapan saya kekamar mandi untuk mandi karena nanti jam setengah sepuluh saya harus pergi ke madrasah tempat anak ibu sekolah MTS Salafiyah Paninggaran (setingkat SMP). Saya akan menghadiri kumpulan wali murid kelas IX Mts. Saya berangkat dari rumah sekitar jam setengah sepuluh pagi. Saya diantar bapak dengan naik sepeda motornya yang bermerk Vega. Bapak menitipkan sepeda motornya dirumah saudaranya yang ada di Simbang, yaitu rumah pak Selamet yang mempunyai pondok pesantren. jadi saya harus turun jalan kaki sampai Simbang terlebih dahulu. Bapak jalan lebih dulu dan saya menyusul turun kebawah bersama anak bapak yang paling kecil, yaitu Mala. Sepanjang perjalanan saya berjumpa dengan anak-anak kecil yang bermain-main. Ada juga seorang ibu-ibu yang menggendong anaknya. Anaknya tampak sedang mengantuk dan ibunya menina bobokan dengan diayun dalam gendongannya dan diberi ASI. Kami saling bertegur sapa dan saya melanjutkan perjalanan saya. Sepanjang perjalanan, Mala banyak bercerita tentang jalan setapak yang kami lewati. Jalan setapak tersebut sangat curam dan disamping kanan kiri ada pohon dan kalen. Ketika sampai di perbatasan Sidomas dan Simbang, Mala bercerita bahwa dijalanan tersebut sangat berbahaya karena kadang ada ulat yang melata. Ulat tersebut kadang datang dari pohon dan tumbuh-tumbuhan yang ada pinggir jalan. Atau datang dati kebun – kebun yang ada disekitarnya.

Sesampai di jembatan yang menjadi perbatasan Sidomas dan Simbang saya melihat bapak yang sudah menunggu dengan sepeda motornya. Saya langsung naik di bagian belakang dan Mala di depan bapak. Perjalanan menghabiskan waktu sekitar setengah jam. Sepanjang jalan saya sangat menikmati keindahan yang tersajikan sambil sesekali mengobrol dengan bapak. Selain keindahan alamnya yang begitu mempesona, saya juga menemukan kenyataan hidup yang begitu mengharukan entah menyedihkan. Bagaimana tidak? Saya melihat seorang kakek-kakek tua dengan kulit tubuhnya yang sudah berkerut dan bajunya yang kumal sedang memikul rumput di bahunya yang merupakan hasil ngaritnya untuk pakan ternak. saya juga melihat anak kecil yang usianya sekitar 11 tahun dengan memakai celana warna hitam yang sudah kusam dan kaos oblongnya yang klowor berwarna biru tua sedang mencangkul pasir untuk dikumpulkan. Ada juga seorang nenek yang sedang menjemur padi. Ah,,, dunia memang sungguh lengkap dengan adegannya.

Sekitar jam sepuluh saya sampai di kecamatan Paninggaran. Saya melihat keramaian yang begitu berbeda dengan di dusun yang saya tempati. Banyak orang berlalu lalang dengan naik sepeda motor, bus, ataupun doplak. Kebetulan hari ini adalah hari minggu wage, jadi wayah pasaran. Pasar tampak ramai, banyak penjual dan pengunjung. Pasar di paninggaran memang ramenya adalah ketika pasaran dalam hitungan jawa jatuh pada pasaran wage. Saya melihat banyak orang yang membawa barang belanjaan. Mereka semua tampak dari belanja di pasar. Di sebelah kiri jalan, ada puskesmas dan ada beberapa orang yang sedang duduk-duduk didepannya. Disamping puskesmas adalah kantir kecamatan di kantor kecamatan tampak ramai banyak pemuda-pemudi. Dan tampaknya ada beberapa teman TPL yang sedang duduk-duduk di depan kantor kecamatan. Namun karena saya kurang memperhatikan dan saya sedang di bonceng bapak naik motor jadi saya tak ambil pusing dengan siapa saja yang sedang duduk di depan kantor tersebut.

Sekolahan MTS masih masuk kira-kira 100m dari jalan raya. Jalan masuknyapun tidak sebagus jalan raya Paninggaran, karena jalan (gang) masuk kesekolahan jalannya berbatu dan tidak beraspal. Sesampai disekolahan MTS Salafiyah Paninggaran, murid-murid sudah dibubarkan dari aktivitas belajarnya karena kelas digunakan untuk kumpulan. Saya sudah ditunggu oleh Lia di depan pintu masuk sekolah. Lalu saya diantar masuk ke tempat kumpulan wali murid. Tempat yang digunakan untuk kumpulan adalah ruang kelas IX d, yaitu ruang kelas Lia.

Sampai dikelas saya langsung mencari tempat duduk. Dan saya memilih tempat duduk no 3 yang kebetulan masih kosong. Wali murid saling berdatangan. Dan disamping saya ada seorang nenek yang ternyata bernama mbah Warsih, sebagai wali murid dari Lumeneng yang bernama Harti. Harti adalah cucu mbah Warsih. Dirumah mbah Warsih tinggal bersama tiga cucunya yang ditinggal oleh bapaknya bekerja di pabrik Pekalongan. Saya dengan mbah Warsih mengobrol dengan asyiknya sampai acara kumpulan dimulai. Acara kumpulan ini termasuk molor. Karena undangan sebenarnya adalah jam 10.00, dan acara baru dimulai sekitar jam setenga11. Acara dibukan oleh staf guru yang sekaligus sebagai panitia ujian sekolah. Beliau menjelaskan tentang aturan ujian sekolah, ujian nasional, dan segala hal yang diperlukan oleh murid kelas IX. Lalu acara diserahkan kepada panitia inti ujian, yaitu Pak Wahid. Beliau menjelaskan perincian biaya dan pada akhirnya mengusulkan biaya yang harus dibayar per murid sebesar 95.000,00 dan harus dibayar  paling lambat tanggal 31 januari 2010. Pak Wahid meminta persetujuan dari wali murid, karena kumpulan tersebut adalah untuk bermusyawarah demi masa depan anak-anak semua. Pertama banyak yang tidak setuju atas waktu yang ditentukan, karena batas waktu tersebut terlalu cepat, yaitu hanya satu minggu. Namun, dari berbagai pertimbangan yang diperjelaskan lagi oleh pak Wahid akhirnya wali muridpun menyetujuinya meski masih ada beberapa yang keberatan. Acara selesai sampai jam setengah dua belas siang. Saya keluar dari ruang kumpulan, dan ternyata Lia masih menunggu saya di ruang depan. Lia tidak pulang bersama bapak yang tadi mengantar saya karena bapak sudah membonceng dua anak, yaitu Mala yang tadi bareng saya dari rumah dan Santi yang kelas VII mts Salafiyah Paninggaran. Saya pulang bersama Lia berjalan kaki dan di kantor kecamatan saya bertemu dengan beberapa teman TPL yang sedang berkumpul, diantaranya ada Hendi, Ardan, Hana, Pindo, dan ada beberapa yang tidak saya kenal. Kata Hana mereka berkumpul secara tidak disengaja. Saya menghampiri mereka sebentar lalu saya berpamitan untuk pulang lebih dulu. Sebelum pulang saya sempatkan mampir pasar untuk beli jajan. Saat itu, sudah siang. Jadi pasar suah sepi. Banyak penjual yang sudah pulang. Saya muter-muter mencari jajan pasar, tapi jajan yang saya cari tidak ada. Jadi, saya masuk ke penjual jajan chiki-chikian dan saya beli permen milkita satu pak, kwaci satu renteng, dan better satu renteng. Setelah itu, saya pulang dengan naik ojek. Kebetulan ojek yang saya naiki dengan Lia adalah tetangga Lia sendiri, namanya kang Budi. Dia berasal dari Sragen. Kami naik motor satu untuk bertiga. Istilahnya adalah cenglu. Namun, semua itu tak masalah karena dia sudah terbiasa. Motornya yaitu Jupiter Z.

Saya sampai rumah sekitar jam setengah satu. Saya turun dari dijembatan perbatasan Sidomas dan Simbang. Saya dan lia berjalan lagi kira-kira setengah kilometer untuk sampai rumah yang berada di Sidomas. Saya sangat capai karena jalannya naik dan berbatuan. Di jalan, saya melihat ibu-ibu yang sedang menggendong anaknya dan ada ibu-ibu yang sedang menyuapi anaknya. Di jalan naik menuju rumah, batur (jalan tangga = naik) depan mushola banyak anak kecil yang sedang bermain, dan ada juga bapak-bapak serta pemuda desa yang sedang sibuk ngangkutin salon dan peralatan treteg buat acara mantenan. Sesampai dirumah, rumah tampak sepi. Saya langsung masuk kamar dan beberapa menit kemudian bapak pulang dari rumah tetangga yang sedang membuat treteg buat mantenan tersebut. Anak kecil yang tadinya diluar juga tiba-tiba saling masuk dan nonton TV. Kebetulan saya tadi dari pasar beli jajan, lalu mereka saya beri jajan satu-satu.
Sekitar jam setengah dua saya makan siang. Setelah selesai makan siang, saya dikamar ingin istirahat. Namun, saya tidak bisa tidur siang karena rumah rame dengan anak-anak yang sedang main. Dan dikamar saya ada Lia, Santi dan Mala, dan beberapa anak tetangga. Lalu kami bermain rame-rame dikamar.

Dirumah tetangga sudah mulai banyak yang berdatangan untuk rewang. Begitu juga dirumah ibu digunakan untuk memasak nasi. Habis magrib direncanakan untuk memotong sapi yang akan digunakan untuk acara mantenan. Namun, karena hujan jadi acara motong sapinya diundur sampai hujan reda. Sampai isyak, ternyata gerimis masih saja turun. Lalu bapak-bapak yang mau motong sapi membuat treteg agar motong sapinya bisa berjalan dengan baik. Sementara yang lain membuat treteg, bapak Slamet sebagai pak yai yang memotong sapi duduk dirumah ibu bersama bapak untuk menunggu tretegnya selesai. Diruang tamu ibu, banyak anak-anak yang nonton Tv. Lalu saya juga nggabung dengan anak-anak. lalu saya ngobrol dengan pak Yai yang kebetulan mempunyai pondok pesantren di Sidomas. Beliau bertanya asal saya. Lalu beliau bercerita tentang pesantrennya, bahwa dipondoknya ada banyak santri yang mengaji. Santri tersebut datang dari berbagai daerah, dan kebanyakan dari pemalang. Atau pekalongan dan sekitarnya. Adapun santri yang bermukim dipondok adalah santri laki-laki, baik santri laki-laki kecil ataupun besar. Waktu istirahat bagi santri adalah tergantung pada pak yai. Jika pak yai capek dan ngaji diliburkan, maka santri bisa beristirahat. Ada juga santri perempuan. Namun santri perempuan kebanyakan adalah warga Simbang dan mereka tidak bermukim di pondok. Mereka datang ke pondok hanya untuk mengaji dan setelah selasai mengaji, mereka pulang kerumah masing-masing.

Setelah tretegnya selesai, dan hujannyapun sudah reda maka beliau bergegas untuk memotong sapi. Acara pemotongan dilaksanakan di sebelah barat rumah ibu. Pemotongan sapi ini dilaksanakan pada malam hari karena dagingnya akan digunakan untuk menjamu tamu yang datang di acara mantenan esok hari. Pak yai memotong sapi dengan hati-hati dan diawali dengan membaca basmallah dan do’a. 
pemotongan sapi

Selesai memotong sapi, pak yai kembali kerumah ibu menunggu hujan reda agar bisa pulang rumah. Bapak-bapak yang lain melanjutkan untuk godeg sapi. Sayapun kembali masuk rumah setelah puas melihat acara pemotongan sapi. Karena jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam, saya bergegas masuk kamar untuk menjumpai alam mimpi yang indah...  namun diluar sangat ramai dan saya tidak bisa tidur. Akhirnya saya memutuskan untuk bermain game dan jam sebelas saya keluar kemamar mandi. Ternyata diluar masih banyak orang yang sedang masak nasi, dan juga memasak daging. Setelah itu, saya kembali masuk kamar untuk tidur. selamat malam...

Sabtu, 05 Maret 2011

Paninggaran #part III (Penampungan air dari pegunungan)


tiga hari selanjutnya, setelah ku nikmati kehidupan didalam rumah bersama keluarga sederhana yang selalu mensyukuri keadaan dan kenikmatan dalam hidup, kini mulai ku buka mata, telinga dan juga mulai ku langkahkan kaki untuk menapaki jalan setapak demi melihat pemandangan di Sidomas dan sekitarnya.

selamat mengikuti  petualangan Cenung....

Sabtu, 22 januari 2011

Ouh.. saya kesiangan.. saya bangun pukul 06.00. untung saya lagi gak sholat..... bangun tidur saya langsung ke dapur bantu ibu yang masih sibuk masak. Setelah semua selesai saya langsung sarapan pagi.
Sekitar pukul 07.00 saya dikamar untuk menulis data harian. Saya senang kalau dikamar karena kamar saya berada dipinggir dan saya bisa langsung melihat pemandangan di luar. Sementara saya dikamar, bapak merapikan kamar yaitu memoles lantai kamar yang dengan semen, sedangkan ibu rewang dirumah tetangga. Sekitar pukul 08.00 ibu masuk kamar membawakan jenang (makanan yang terbuat dari ketan) yang dibawa dari rumah tetangga. Setelah sedikit saya memakan jenang tersebut, saya langsung kekamar mandi untuk mandi. Ketika saya mau kekamar mandi, saya bertemu bapak yang sedang menata kamar. bapak berkata kalau mau ke Paninggaran beli semen dan foto untuk membuat kartu pemilihan Bupati. Lalu bapak menawari saya mau nitip sesuatu apa tidak. Saya pun menjawab kalau saya tidak titip karena saya kira belum ada kebutuhan yang harus saya beli. Semua kebuhutan sudah saya bawa dari jogja. Setelah mandi, saya bersih-bersih kamar dan meneruskan menulis data harian.

  Sekitar pukul 09.30 saya keliling kearah barat, perjalanan ini sangat membuat saya kagum akan keindahan alam ini. Ternyata dusun Sidomas ini dikelilingi pegunungan yang sangat rindang. Saya juga melihat penampungan air yang digunakan warga untuk menyalurkan air yang digunakan sebagai kebutuhan sehari-hari. Penampungan air  tersebut dari pegunungan, dan setiap satu penampungan bisa digunakan sekitar 18 keluarga untuk menyalurkan air. Disini saya bertemu dengan seorang ibu-ibu yang memerikasa keadaan saluran airnya. Ternyata salurannya buntu karena tersumbat sesuatu. Ibu tersebut bilang bahwa “air disini tidak pernah berhenti mengalir. Kalaupun berhenti mengalir pasti karena salurannya tersumbat sesuatu” kata ibu dengan logat khas ngapaknya.
penampungan air 

Setelah puas saya menikmati penampungan tersebut, Saya berjalan terus ke barat, di sana saya bertemu dengan seorang ibu-ibu lagi yang sedang menjemur padi hasil panen. Di dusun Sido mas menunjukkan bahwa masih sangat kental budaya jawanya, dalam hal ini yiatu ramah tamahnya warga yang saya jumpai. Ibu yang menjemur padi tadi menyapa saya dan kami saling berbincang. Ibu tersebut mengaku bahwa padi yang dijemur adalah padi saudaranya. Ibu tersebut belum panen. Selesai saya berbincang dengan ibu-ibu tadi, saya berjalan lagi kebarat, saya menemui banyak hal disana, ada anak-anak kecil yang bermain ayam, ada anak perempuan yang menggendong adiknya di depan rumah, dan saya juga menemui beberapa gerombol petani yang sedang memanen padinya. Cara memanennya masih sangat tradisional, karena para petani tersebut memanen dengan cara memukulkan padinya pada kayu yang digunakan sebagai alatnya setelah itu, sisa –sisa padi yang masih  menempel pada batangnya lalu ditumbuk agar padinya tidak terbuang sia-sia. Selain itu, ada banyak juga bapak-bapak yang memikul rumput hasil ngarit untuk makanan ternaknya. Setelah itu, saya berjalan lagi, dan ternyata perjalanan saya sampai didusun sebelah, yaitu dusun mlumbungan. Ah, ternyata jauh juga perjalanan saya. Senang...... namun karena gerimis, saya memutuskan untuk putar balik, yaitu pulang kerumah saja.

Sesampai di rumah, sekitar jam duabelas. Dan ternyata di rumah sedang ada tamu pamong desa sedang berbincang-bincang dengan partner saya dan ibu. lalu saya bergabung dengan mereka. Bapak pamong desa banyak bercerita tentang desa Winduaji. Beliau berkata bahwa desa winduaji merupakan desa yang ormas islamnya terkuat dibanding desa –desa lain yang ada di Paninggaran. Setelah itu, kami langsung makan bersama. Menu makan siang ini sangat istimewa menurut saya. Sebenarnya makanannya sederhana, tapi untuk cuaca dingin seperti ini, menu sambal bawang dengan lauk ikan pindang dan nasi hangat sangatlah nikmat. Apalagi melihat pak pamong yang makannya begitu nikmat dengan tambahan lalap, yaitu jengkol. Memang, jengkol adalah lalap yang digemari oleh keluarga di Sidomas. Selain memang banyak pohonnya, jengkol juga bisa meningkatkan nafsu makan.

Sekiar pukul dua, saya turun kebawah (arah timur), yaitu mau ke dusun Simbang. Tadinya saya mau membeli perdana XL dan sekaligus mengantar partner yang mau ngasih mantol kepada Hendi. Karena hujan, saya menggunakan payung yang selalu saya bawa kemanapun saya pergi. Saya menapaki jalan setapak yang begitu licin dan curam. Mengerikan sekali jalanan yang menuju Simbang ini, berbeda dengan jalan yang menuju dusun mlumbungan. Jalan yang menuju Simbang ini berbatu dan berkelok-kelok, sangat curam dan jarang dilalui kendaraan. Ketika perjalanan saya hampir sampai di jembatan yang menjadi batasan antara dusun Sidomas dengan simbang, saya berjumpa Hendi yang tadinya mau keteku di Simbang. Akhirnya kami ngobrol sebentar dengan Hendi. Ketika itu, Hendi mengendarai honda Yamaha Jupiter Z milik pak dukuhnya. Karena hujan dan dingin, tidak sadar kami malah berbelok arah untuk pulang, saya lupa akan tujuan awal yang satu, yaitu  membeli kartu perdana. Ya sudah tak apa. Akhirnya saya tetap jalan keatas menapaki jalanan yang licin. Sepanjang perjalanan saya melihat rumah yang berjejer-jejer. Bentuk rumahnya hampir sama satu sama lain, yaitu berbentuk minimalis dan terbuat dari kayu.

Saya juga menemui seorang ibu-ibu yang sedang menggendong anaknya didepan rumahnya. Anaknya perempuan dan baru berusia 4 bulan. Hal ini juga menguatkan akan keramahan penduduk Sidomas, karena ibu trsebut menyapa saya dan partner saya. Akhinya saya mampir sebentar. Ada sesuatu yang membuat saya heran, yaitu saya melihat telinga bayi kecil itu tidak dipakaikan anting-anting mas seperti kebanyakan bayi kecil yang saya lihat dirumah ataupun dijogja. Namun, telinga bayi kecil tersebut di beri benang warna hijau yang dilingkarkan pada kedua telingan bayi kecil tersebut.

Saya juga melihat angsa yang dengan asyiknya bermain dijalanan. Selain itu, ada juga cowok-cowok ABG yang iseng menggoda ketika saya sedang berjalan. suara mereka terdengar sampai telinga saya “cewek.... wah mesti orak cak kenek kuwi..”. aih,,, logatnya bisa membuatku tersenyum. Sesampai dirumah, ada Pak tua, tetangga sekaligus saudara ibu  yang sedang makan bersama dengan bapak dan ibu. Saya menyapa kakek yang memakai baju warna hitam dan memakia sarung itu. Lalu saya masuk kamar untuk istirahat. Namun, siang ini saya tidak bisa tidur karena anak-anak ibu dan juga Pak Tua ternyata sedang menonton pengajian “goro-goro” dari semarang. Mereka menonton pengajian tersebut dari Cd yang di nyalakan di VCd player. Saya mendengarkan dari dalam kamar, karena selain pengajiannya seru, suara Tvnya juga keras, sehingga membuat saya tidak bisa tidur dan ingin mengikuti alur pengajian tersebut.
Sore hari, sekitar jam setengah lima saya kebelakang. Sebelum saya masuk kekamar mandi, saya melihat bapak dan ibu sedang asyik didapur. Bapak sedang menyiapkan kabel yang nantinya mau digunakan dirumah tetangga yang mantenan. Ibu sedang memasak, lalu saya duduk didepan api untuk menghangatkan badan. Setelah badan saya sudah mulai hangat, saya masuk kamar mandi.. Saat itu, Santi dan Lia sedang menyetrika.

Sekitar jam lima saya bermain dengan anak-anak ibu yang sedang nonton film spongebob, arti sahabat, dan pinguin madagaskar. Sinyal TV yang bisa memang hanya Indosiar, RCTI, da Global TV. Jadi, acara TV yang dilihat hanya di tiga stasiun TV tersebut. kalau melihat acara lain di TV, mereka menonton CD. Koleksi Cd dirumah ada beberapa macam, ada pengajian dari semarang yang judulnya goro-goro, ada lagu dangdutan, ada juga band-band lama seperti Wali dan ungu, dan juga ada beberapa kartun yang tampaknya suah usang.
Waktu magrib anak-anak pergi ke mushola untuk sholat magrib berjamaah, namun kali ini bapak dan ibu tidak pergi ke mushola karena ada saudara yang datnag. Mereka masih mengobrol. Selain itu, anaknya yang paling kecil, yang berumur 9 tahun juga tidak pergi ke mushola. Lalu saya mengajari membaca pelajaran agama dan bercerita tentang apa yang sudah dibaca  oleh anak ibu yang paling kecil. Sampai keponakan ibu yang laki-laki datang, saya masih bersama dengan anak ibu yang paling kecil. Setelah itu, mereka semua belajar untuk pelajaran esok hari. Lalu saya diajak makan bersama oleh bapak dan ibu. Kali ini porsi makan saya lumayan banyak karena suasana dingin memang dengan cepat membuat perut lapar. Saya memakan dengan lahap makanan yang tersedia. Kali ini ibu membuat sambel ikan panggang, ada ikan pindang, dan juga tempe. Dan pasti, suatu keharusan buat bapak adalah adanya jengkol sebagai pelengkap makan. Oya, karena yang makan jengkol hanya bapak, jadi malam itu bapak membuat sambal bawang sendiri buat melengkapi menu malamnya.

Selesai makan anak-anak ibu yang besar datang dari mengaji. Mereka langsung makan malam. Namun, bapak melarang Lia, anak ibu yang paling besar untuk makan karena masih ada tanggungan yang harus diselesaikan Lia, yaitu mencari senter yang dari dari sore dicari tidak ketemu. Setelah semua anggota keluarga berputar-putar mencari senter, ternyata Santi, keponakan bapak menemukan senternya di rak piring. Ah,, memang dasar Lia teledor.... setelah ketemu, Lia dan Santi makan malam. Dan mbak karomah, tetangga ibu yang mau menikah  juga datang minta di SMS kan kepenjual pulsa. Kebetulan yang punya no  hp penjual pulsa memang hanya keluarga ibu.
setelah isyak, bapak mengantarkan pulang saudaranya yang orang simbang dengan membawa senter. Ibu dan mbak Karomah masih mengobrol, lalu saya menggabung dengan anak-anak yang menonton TV. Acar yang ditonton malam inipun tidak beda jauh dengan malam-malam sebelumnya, yaitu nada-nada cinta, Cinta Fitri, dan OVJ.
Jam 09.00 malam saya masuk kamar. sebelumnya saya kekamar mandi untuk pipis dan cuci muka. bapak juga tampaknya sudah siap untuk tidur, begitu juga dengan ibu. Karena keduanya sudah memakia jaket tebal dan sarung. Anak-anak ibu juga sudah pada bersiap untuk tidur. Selamat malam semuanya...

Kamis, 03 Maret 2011

Cenung_Ngaos: Ondhol adalah makanan khas Paninggaran

Cenung_Ngaos: Ondhol adalah makanan khas Paninggaran: "Hidup adalah rangkaian cerita yang tiada batas..., indah untuk dikenang dan juga manis untuk disimpan. ada cerita dalam hembusan nafas, bany..."

Ondhol adalah makanan khas Paninggaran

Hidup adalah rangkaian cerita yang tiada batas..., indah untuk dikenang dan juga manis untuk disimpan.
ada cerita dalam hembusan nafas, banyak kenangan dalam hitungan detik. begitu juga dengan Cenung, sungguh tiada akan habis cerita dalam hidup, baik manis, pahit, senang, ataupun duka.
Karena begitulah adanya hidup, yang selalu ada kenikmatan juga kebahagiaan dalam rasa syukur yang ada dalam jiwa setiap insan.
satu cerita untuk kalian semua...
selamat menikmati petualangan di Paninggaran...

 Jum’at 21 januari 2011
Hari kedua dirumah ibu. Saya bangun jam 05.30 dan saya langsung masuk kamar mandi buat mandi. (dingin banget...)). Saya lihat ibu sedang masak, tapi maaf banget bu, saya harus mandi jadi pasti gak bisa bantu ibu. Benar saja habis mandi ibu sudah selesai masaknya. Sekitar Jam 06.00 anak-anak sudah siap-siap sekolah kecuali Sinta dan Lia katena mereka berdua sekolah di MTS, jadi pada hari jum’at mereka libur. Sekitar jam setengah 7 saya duduk diluar bersama ibu. Saya dan ibu bercerita tentang keadaan desa. ibu banyak menceritakan dusunnya, bahwa sebelah barat dari dusun Sidomas adalah dusun Lumbung. Selain itu, kalau pagi-pagi selalu dingin. Airnya juga gak pernah kekeringan meskipun musim kemarau karena airnya langsung turun dari pegunungan (ah, yang ini beda banget ma di rumahku yang tiap musim kemarau pasti kekeringan sampai para petani enggan ke sawah). Konon kata bapak dan ibu, iuran yang dikenakan untuk membayar air ini sebesar tiga ribu rupiah perbulan (murah banget ya...??)
sekitar jam tujuh Kurang seperempat saya menikmati sarapan pagi, disini makanannya penuh gizi meskipun masakannnya jenis masakan yang sederhana. Seperti pagi ini, sarapan yang terhidangkan adalah mie goreng, telur, tempe, dan ada ikan pindang. Minumannya adalah teh hangat. Wah.. benar-benar mantab...
Bapak sendiri sibuk dengan kerjaannya, yaitu membenahi rumah bersama tukang kayu yang disewa. Selain menggeser kamar, rumah bagian belakang (dapur), dinding rumah bagian barat juga dibenahi yaitu dipaku ulang agar lebih kuat. Oya, ada yang belum saya ceritakan. Rumah bu bau ini berbentuk minimalis dan sederhana. Dinding rumahnya terbuat dari papan kayu yang papannya dibuat dengan gaya tidur. Lantainya terbuat dari ubin, atapnya genting (kenthÄ›ng press). Usuk sama rusuknya terbuat dari bambu. Rumahnya terbagi menjadi dua bagian, bagian pertama yaitu rumah depan yang dibagi menjadi lima ruangan, ruang pertama ruang tamu yang sekaligus menjadi tempat nonton TV dan berkumpulnya keluarga. Diruang ini ada dua meja besar dan meja kecil, ada kursi kayu dan kursi plastik yang biasanya digunakan duduk-duduk dan mempersilahkan tamu, kamar tidurnya ada tiga.  bagian depan (selatan) tempat tidur bapak dan ibu, bagian utara dibagi menjadi dua kamar yang bagian paling barat menjadi tempat tidur saya dan partner (seharusnya tempat tidur anaknya yang perempuan), samping timur kamar saya tempat tidur anaknya, samping timurnya lagi ruang kosong yang biasanya difungsikan sebagai tempat tidur. Hal yang menarik bagi saya yaitu adanya tempat tidur diatas yang mana tempat tersebut berada di langit-langit rumah yang difungsikan sebagai tempat istirahat ketiga anak lagi-laki kecil. Tangga yang digunakan untuk naik adalah ondho yang terbuat dari bambu. Rumah kedua yaitu bagian belakang yang difungsikan sebagai dapur sekaligus ruang makan, dan kamar mandinya. Rumah belakang ini terbuat dari bambu dan berlantaikan tanah. Kamar mandinya sendiri masih menggunakan dinding bambu (kalo mandi bisa diintip ni...hihihihi..jadi harus pakai kemben...)
Sehabis makan saya bantu-bantu Lia dan Sinta yang mencuci piring. Setelah itu, saya menulis data harian sampai sekitar pukul 09.30. sehabis menulis data harian, saya langsung mencuci baju. Karena hujan gerimis, jadi baju saya jemur dibelakang, ah tepatnya sih dikamar mandi. Jam 10.00 saya didapur ikut bantu ibu yang sedang memasak. Ibu habis dari pasar. Beliau membeli jajan pasar yang namanya ondol (jajan yang terbuat dari singkong= dan dibentuk bulat – bulat lalu digoreng). Ibu memasak pecel lele dan pindang goreng serta sayur bening. Eh, ada yang menarik lho,,, ibu buat sambel pecelnya pake santen (tapi rasanya enak juga...). kata ibu, cabai satu kilo disini harganya Rp30.000, yang ini benar-benar murah dibanding harga dijogja, lele satu kilo harganya 15.000, tapi minyak gasnya mahal... satu liternya 10.000.
Sekitar jam 10.30 saya menonton TV bersama Santi dan Lia. Berhubung sinyal TV nya yang hisa hanya sinyal Global Tv dan SCTV, jadi saya dan anak-anak menonton TV yang sekiranya enak dilihat saja. Pagi ini saya menonton Miracle di Global TV. Pada saat ini bapak masih sibuk dengan kerjanya, dan jam 11.00 bapak dan tukang kayu mengakhiri kerjanya dan dilanjutkan makan siang. Setelah itu, bapak siap-siap mau jum’atan dan jam 11.30 bapak berangkat jum’atan. Jum’atannya di masjid Lumbung (lumayan jauh). Ah iya, Hendi juga main kerumah sekitar jam 12.00. dia jalan kaki boo.. uh kasian kehujanan, mana gak ake payung ati jas hujan lagi. Akhirnya setelah sampai rumah dia berbincang-bincang sama Ajeng dan ditemui ibu, dan saya juga. Lalu dilanjutkan makan bareng (ihi.. Ajeng...). jam setengah satu Hendi pulang ke tempatnya yang di Kauman dan diantarkan sama Ajeng sampai bawah.
kekayaan Sidomas
Pukul 16.00 saya kekamar mandi. Setelah itu saya duduk dibelakang bersama bapak, ibu, dan Ajeng. Bapak dan ibu sedang membenahi tata letak ruang belakang. Akhirnya ruang belakang sekarang bisa difungsikan sebagai ruang makan dan berkumpul. Sore hari yang dingin-dingin kayak gini emang enaknya ngopi, akhirnya saya membuat kopi Good day dan membuatkan satu untuk bapak. Minum kopi sambi makan ondol dan tempe goreng, duh nikmatnya..... sambil saya makan dan bapak membenahi rumah, kami mengobrolkan dusun Sidomas. Kata bapak di Dusun Sidomas ada satu pesantren yang namanya Pondok pesantren Khoirul Mustofa. Pengasuh pondok pesantren tersebut adalah pak Selamet, yang biasanya dipanggil Pak Yai. Pak yai juga merupakan saudara bapak, yaitu adik sepupu bapak. Bapak juga bercerita bahwa di Pondok tersebut kegiatannya adalah belajar dan mengaji. Waktu istirahatnya adalah jam 6 – jam 8 pagi, dan ba’da dhuhur. Jam dua di lanjutkan lagi mengaji. Santri putra kalau sedang libur biasanya membantu pak Yai pergi ke hutan mencari kayu.  
Disamping bapak dan ibu yang sibuk, anak-anak juga tampak ramai sedang bermain di kamar atas. Mereka tampak ceria bermain dengan saudara-saudaranya itu. Sekitar jam 17.00 ketiga anak laki-laki kecil pergi bermain bersama teman-temannya. Mereka main bola. Lia, Santi, dan Mala sedang main bekel, jadi saya nimbrung yang ini saja ah....
Setelah bermain bekelnya selesai, dan bapak ibu juga sudah tampak santai, akhirnya kami nonton TV. Acara yang kami lihat masih sama dengan kemaren sore, yaitu Pinguin Madagaskar, Arti sahabat dan Spongebob. Tv dimatikan ketika adzan berkumandang. Bapak dan ibu sekeluarga sholat magrib di mushola yang ada di depan rumah. Selesai sholat magrib, anak-anak mrngaji dirumah pamannya (samping rumah). Lalu saya makan bersama dengan bapak dan ibu. Habis makan , ibu pergi ke acara kondangan (hitanan) di dusun sebelah. Anak-anak sudah selesai mengaji lalu dilanjutkan belajar membaca dan mengerjakan PR untuk pelajaran besok sampai pukul setengah delapan. Setelah itu kami semua menonton TV. Acara yang dilihat yaitu Cinta Fitri, dan OVJ. Jam sembilan malam semuanya sudah mulaii bergegas menuju kamar masing-masing untuk istirahat. Selamat malam.......

# bau adalah sebutan untuk kepala dusun. karena kepala dusu di Sidomas adalah seorang wanita, maka di panggil bu bau.

Kamis, 24 Februari 2011

Go to Paninggaran- Pekalongan #pemberangkatan

kini saatnya aku mulai perjalanan menuju Paninggaran - Pekalongan, dan semua diawali dari pemberangkatan dari kampus UGM.

 Rabu, 19 januari 2011

Ba’da magrib, sekitar pukul 06.30 sore saya sampai kampus untuk brifing dan persiapan pemberangkatan peserta TPL ke Paninggaran. Sesampai dikampuspun acara segera dimulai dan peserta TPL mulai brifing. Pertama adalah pembagian dusun dan ternyata saya mendapatkan dusun Sidomas yang berada di desa Winduaji bersama dengan teman saya yang sebelumnya kami sudah saling mengenal.
 Setelah itu ada waktu sekitar satu setengah jam yang bisa kami manfaatkan untuk beli makan atau apapun. Dan tepat pukul 21.30 kami berangkat menuju tempat TPL. Perjalanan ini yang begitu menyenangkan. Malam hari yang sunyi dengan iringan gerimis yang menjadikan perjalanan terasa menyenangkan. Menyenangkan buat saya, karena malam hari banyak menyimpan rahasia hidup dibalik pesonanya. Dan rahasia itu sering terlewatkan oleh saya karena mata yang enggan diajak kompromi. Sungguh, saya tak kuasa menanggung kantuk yang menggelayut di kedua mata saya.

Kamis, 20 januari 2011
Tak terasa, malam yang diselimuti dingin itu membawa bus bergerak cepat.  Pukul 02.30 kami sampai di Kajen- Pekalongan. Awalnya (kata beberapa panitia) bus diberangkatkan lebih awal karena mengingat jalan Magelang habus terkena banjir lahar dingin. Namun, ternyata jalan di Magelang tidak macet, jadi bus nyampe ditempat lebih awal dari perkiraan. Bayangkan saja, jam 02.30 dengan keadaan yang dingin dan ditambah hujan yang juga lumayan lebat. Peserta TPL harus turun dari bus karena sopir bus gak mau menunggu sampai datangnya doplak yang bakal mengangkut kami ke desa tujuan. Walhasil, kami harus turun berbondong-bondong ketempat ungsian, yaitu masjid Agung Kajen-Pekalongan. Ahahaha.. saya mengungsi dimasjid. Mengingatkan perjalananku sebulan yang lalu (lalalalala asyik...). disana saya duduk saja, sebenarnya ngantuk , tapi saya gak ingin tidur. Menikmati pemandangan yang ada sangat menyenangkan. Bagaimana tidak? Dengan rintik hujan yang menyelimuti malam, menjadikan masjid dan sekitarnya terlihat sangat mempesona. Saya menunggu waktu subuh datang, dan ketika adzan sudah berkumandang saya mulai bergegas mencari kamar mandi buat wudlu. Namun sungguh apes. Masjidnya belum dibuka dan kamar mandinya harus lewat dalam masjid. Jadi, saya harus menunggu masjid dibuka. Alamakk ni masjid gede – gede kok gak dibuka ya.... eh, giliran dibuka lampunya gak dihidupin dan juga gak ada jamaah sholat yang datang buat sholat berjamaah. Yang sholat hanya takmir masjidnya dan beberapa peserta TPL. Ya sudah, akhirnya saya ikut sholat berjamaah dengan imam dan juga peserta TPL yang ikut sholat shubuh berjamaah. Setelah selesai sholat saya kembali duduk di serambi masjid. Disana saya ngobrol-ngobrol dengan beberapa teman. Ya, tentang apa sajalah yang bisa menjadikan pagi tak membosankan. akhirnya penantian saya terjawab karena sekitar jam 07.00 pagi ada doplak yang datang, namun... oh ternyata itu bukan doplak yang mengankut saya. Beberapa menit kemudian ada doplak datang lagi. Dan ouuhhh,... tenyata juga itu bukan doplak yang mengangkut saya. Pada akhirnya sekitar jam 08.00 dua truk datang menjemput saya dan tema-teman lainnya yang masih tersisa di masjid. Lalu kami semua berangkat ke Paninggaran dengan naik truk. Asyik tenan.... karena apa? Dalam perjalanan saya benar-benar dibuat takjub oleh pemandangan yang ada. Anginnya sungguh membuat kulit termanjakan. Dinginnya sungguh membuat hati ini nyaman. Jalannya berkelok-kelok, membuat hati ciut namun sayang jika harus terlewatkan. Sepanjang jalan banyak perkebunan karet yang aku gak tahu punya siapa perkebunan sebanyak itu. Yang pasti perjalanan sungguh menyenangkan. Saya berbincang dengan teman disebelah saya, yaitu Citra. Dalam perjalanan itu saya naik truk dan saya harus berdiri demi bisa menikmati pemandangan yang ada. Saya bicara banyak hal dengan teman yang ada disebelah saya itu. Tentang keindahan alamnya, langit yang terbentang luas dengan diapit daun-daun yang rimbun. Embun juga saling bertebaran keluar dari celah-calah pohon, menjadikan alam kian mempesona.
Perjalanan memakan waktu sekitar satu jam, dan jam 09.00 saya sampai dikecamatan Paninggaran. Di kecamatan tersebut diadakan penyambutan oleh pak camat dan stafnya. Disitu pak camat memberi kata sambutannya dengan mengucapkan “selamat datang para peserta TPL dari UGM”. setelah itu ada juga penyerahan plakat dari panitia TPL kepada pak camat dan juga foto bersama. Setelah itu, sekitar pukul 10.00 kami langsung berangkat ke tujuan masing-masing dengan naik doplak. Pemberangkatan ini dibagi menjadi 3 doplak dan saya  naik doplak yang bertujuan ke desa Winduaji dan sekitarnya. Saya dan partner akhirnya turun di dusun Sidomas desa Winduaji. Saya turu persis dipertigaan dusun Sidomas dan akhirnya saya dan partner harus jalan keatas mencari rumah bu bau yang bakal saya tempati selama 2 minggu. Awalnya saya agak kebingungan ( mana rumahnya?). saya menelusuri jalan bebatuan yang menanjak keatas. Karena kebingungan kamipun bertanya dengan ibu-ibu tua yang sedang memotong kayu disamping rumahnya. Ibu tua itu bilang kalau rumah bu bau masih keatas lagi. Katanya rumahnya samping mushola warna hijau. Hatiku gembira karena sedikit saya berjalan keatas saya melihat mushola hijau. Namun ternyata rumah bu bau masih keatas lagi. Aduh,,, mana to rumahnya? Mana saya kebelet pipis lagi. Saya dan partner tetap menelusuri jalan bebatuan itu. Dan saya senang bukan main karena saya melihat ada kamar mandi umum. Paling tidak ini bisa mengobati saya yang sudah menahan pipis meskipun rumah bu bau belum juga tertemukan. Partner saya dengan baik hati menunggu saya yang masuk ke kamar mandi. Dan setelah itu, kami melanjutkan perjalanan. Dan sungguh menyenagkan dengan beberapa langkah saya melihat ada mushola. Aha!! Itu rumahnya. Dengan semangat saya naik menyusuri jalanan. Tanpa pikir panjang saya mengucap salam didepan rumah warna hijau. Alamak... saya malu benar yang ini. Ternyata yang disamping mushola persis bukan rumah bu bau. Namun rumah bu bau ada dsebelah baratnya.
Sekitar pukul 10.30 saya sampai dirumah bu bau. Capek bener booo... saya dan partner langsung dipersilahkan masuk bu bau yang keluar dari rumah tetangganya. Usut punya usut ternyata bu bau sedang rewang di rumah tetangganya yang akan punya gawe mantenan. Dirumah ibu saya dikasih minum teh hangat dan makanan ala kadarnya. Setelah sedikit basa-basi dengan ibu dan bapak, saya dan partner dipersilahkan untuk istirahat sejenak. Sekitar jam 11.15 saya dan partner  disuruh makan siang. Disini saya mengobrol dengan ibu dan bapak. Bapak sendiri sedang membenahi rumah dengan tukang yang disewa. Katany sih menggeser kamar tidur. Ibu sendiri seperi yang saya bilang diatas, yaitu sedang rewang dirumah tetangga yang mau punya gawe mantenan anak perempuan. Disana ibu membantu membuat jenang. Dan kata ibu di desa kerukunan dan gotong royang masih sangat kental. (beda banget sama dikota ya..? apa-apa bayar, dikit-dikit bayar...). ibu juga bercerita kalau ngojek ke kecamatan juga murah, katanya Cuma 5000.00. benarkah? (siapa mau mencoba??))
Setelah makan saya langsung kekamar mandi untuk wudlu dan langsung sholat dhuhur dikamar. Setelah itu saya tidur siang untuk menghilangkan capek2 yang ada di badan. Saya bangun sekitar pukul 15.30. niatnya saya mau langsung sholat ashar. Namun, sampai dikamar mandi, saya jadi mengurungkan niat saya, karena tamu bulanan saya datang (hahahaha). Akhirnya saya mandi sore saja. Wauw.. betapa dinginnya...seperti air di dalam lemari es...  mak nyesss..
Sekitar jam 16.00 anak-anak ibu sedang berkumpul nonton televisi. Anak ibu ada dua cewek semua. Yang satu kelas 3 SMP namanya Lia, yang satunya kelas 3 SD namanya Mala. Namun ibu dan bapak masih punya tanggungan 4 anak yang kata bapak 4 anak itu anak yatim, dan ditinggal ibunya bekerja. 4 anak ini terdiri dari 1 cewek yang dudk dikela 1 SMP namanya Santi, dan 3 cowok kecil yang masing – masing bernama Dani, Danu, dan Rizal yang ketiganya masih duduk di sekolah dasar.
Acara yang ditonton pada sore hari sekitar pukul 16.00 adalah Arti Sahabat, Pinguin, dan Sponge Bob. Tv dimatikan ketika adzan magrib berkumandang. Setelah magrib semua penghuni keluarga melakukan aktivitas. Anak-anak yang masih di SD belajar bersama ibunya, dan saya mulai usil ikut-ikut belajar bersama. (hihihi). Sedangkan bapak mengaji dan habis isyak bapak pergi tahlilan di rumah tetangga. Sedangkan Lia dan Santi sendiri pergi untuk berjanjian (dhibaan= membaca syair-syair arab bertujuan untuk mengingat Nabi Muhammad saw) dirumah tetangga juga. Akhirnya tinggallah saya beserta partner dengan ibu dan anak-anak. setengah 8 anak-anak selesai belajar dan langsung nonton TV, sedangkan ibu pergi kerumah tetangga untuk rewang lagi. Tinggallah saya yang mengantuk bersama anak-anak nonton TV. Berat benar mata ini, kuputuskan sekitar jam 20.00 lebih saya masuk kamar. Niatnya mau tidur-2an saja, e... malah bablas tidur sampe pagi. (alamak...))))