Selasa, 15 November 2016

Jika Tak Kenal, Apalah Arti Sebuah Nama

Coming Againnn!!!!

Bismillah, dan Alhamdulillah. Saya bisa kembali atas dukungan dari teman-teman semua. Saya yakin, message adalah bagian dari tali silaturahmi. Maka, sebuah message juga merupakan tiupan semangat yang diberikan oleh malaikan lewat peri bernamakan manusia. Dan kali ini, terimakasih saya buat   Admin ODOP dan tentu teman-teman ODOP karena telah mampu membangkitkan semangat menulis saya.
Hari ini merupakan minggu yang entah ke berapa saya mengikuti kelas ODOP. Dan, saya sebenarnya malu untuk mengakui bahwa sudah seringkali BOLOS tanpa alasan. Kali ini dengan tertatih saya menahan malu untuk kembali bangun dan mengikuti kelas ini. Maka, saya harus menghitung masa kerja kelas ODOP dan menghitung hari yang telah saya lewatkan tanpa menulis. Hingga harapannya, saya bisa menulis lebih banyak dan juga semangat penuh cinta.
Bagi saya, Minggu ini merupakan awal yang tepat. Sepertinya, semua pihak dan keberuntungan memihak pada saya. Lihatlah! Saya di sini bisa berdiri tegak dengan keadaan sehat. Dan Tantangan yang diberikan oleh ODOP adalah tentang perkenalan diri. Lalu, nikmat apa lagi yang harus saya dustakan?
_____________###_____________

Berbicara tentang perkenalan, ini adalah awal saya harus membuka hati. Iya, membuka hati jika saja nanti ada teman dari seribu teman yang tertarik menyambung silaturahim dengan saya. Karena dari perkenalan tidaklah tidak mungkin dari yang tidak kenal menjadi kenal, dari yang jauh menjadi dekat, dan dari yang sudah kenal atau sekedar tau menjadi lebih akrab.
Dahulu, saat saya belum begitu faham arti sebuah nama. Saya protes dengan Bapak “Kenapa nama saya NUR HASANAH? Kenapa saya tidak diberi nama yang panjang layaknya  kereta agar terdengar lebih gaya?”
Bapak sayapun dengan enteng menjawab “Beruntung tidak bapak beri nama PAINAH, nak”
Saya hanya terkekeh dan diam dalam gerilya pikir. Iya juga. Di Era modern ini seharusnya saya bersyukur karena sudah diberi nama yang indah oleh kedua orang tua saya. Sayapun tersadar bahwa hakikat sebuah nama adalah bukan karena terdiri dari satu suku kata, dua suku kata, ataupun tiga dan lebih bnayak dari tiga suku kata. Nama adalah doa dan harapan dari orang tua. Dan nama yang singkat ataupun panjang di dalamnya terselip beribu doa dan harapan dari orang tua agar kelak si anak menjadi manusia yang baik layaknya nama yang di sandang.
Nama PAINAH juga tidaklah jelek seperti halnya seperti kata bapak saya. Nama PAINAH juga memiliki arti yang baik karena nama PAINAH diambil dari bahasa Jawa dan merupakan nama yang popular pada tahun kejayaannya.
Di tahun 2000an ini mungkin nama PAINAH tidaklah keren, tapi abaikanlah hal itu, karena setiap kata yang ada di dalam nama pasti memiliki arti dan doa dari orang tua.
Seiring berjalannya waktu, saya mulai memahami arti nama saya. Dan itu sungguh luar biasa. Karena ternyata nama saya diambil dari bahasa Arab yang memiliki arti Cahaya (yang membawa) Kebaikan.
Lalu, dalam benak saya berpikir, apa saya bisa menjadi manusia seperti harapan dan doa dari kedua orang tua yang disematkan dalam nama saya? Saya yang berusia sudah lebih dari seperempat abad ini belum bisa menjawab dengan baik. Tapi, saya harus berusaha untuk menjadi manusia yang baik layaknya harapan yang terselip dalam nama saya.
Wow!! Lihat! Saya menulis lebih seperempat  abad. Benarkah? Iya, umur saya bisa masuk dalam kategori  tua. Tapi jangan terkecoh! Saat teman-teman melihat foto atau ketemu langsung dengan saya, pasti teman-teman tidak akan percaya kalau saya sudah berkepala dua dan sudah memiliki suami yang begitu baik dan perhatian serta memiliki satu putra yang tampan.
Ketidakpercayaan ini beberapa kali terbukti di tempat saya bekerja, yaitu di Kecamatan. Saat saya mengunjungi instansi Pendidikan atau Kesehatan hal tersebut lagi-lagi terbukti. Iya, beberapa kali saya harus ke Instansi Pendidikan atau Kesehatan, karena saya selain Ibu Rumah Tangga juga nyambi sebagai Pendamping Program Keluarga Harapan (PKH). Hal seperti ini kadang membuat saya bahagia dan berbunga-bunga. (Wanita mana yang tidak mau tampil muda?). Tapi hal seperti ini juga membuat saya harus hati-hati dan waspada. Bukan! Ini bukan ke-GR-an soal cantik atau tidak. Karena cantik itu relative. Tapi, wanita muda (wanita muda yang tampak, belum ketahuan atau memang belum berkeluarga) itu lebih rentan untuk digoda dan digombali oleh bapak-bapak berpangkat dan mas-mas ganteng. Maka, di sini harus ada penjagaan hati khusus untuk ibu muda dan mbak-mbak yang masih single. Karena kita tidak pernah tahu sampai mana kekuatan iman dan kekuatan hati kita atas godaan yang menghampiri kehidupan.
Selain mengenalkan diri saya, saya juga ingin mengenalkan sedikit tentang orang terkasih, yaitu suami dan anak.  Suami saya asli Demak-Jawa Tengah. Dan memiliki nama Nuruddin. Kami dipertemukan saat masih belia di sebuah Desa tempat kami menuntut ilmu, yaitu saat kami masih SMA di se Desa Kajen-margoyoso-Pati. Ada yang tahu Desa ini? Desa Kajen cukup populer dengan sebutan kota santri  karena di sana berdiri beberapa bangunan  Pondok Pesantren baik yang sudah berumur  puluhan tahun ataupun baru seumur jagung. Dari sini cerita kami di mulai. Dari sebuah Desa, hingga kami melanjutkan memilih mengejar cita-cita masing-masing. Dan dengan cerita lain namun masih dengan cinta yang sama, Dia datang ke rumah untuk melamar. (Cerita ini komplit, saya rasa tidak cukup untuk diceritakan dalam satu halaman. Dan semoga lain waktu bisa menuliskannya menjadi berpuluh-puluh halaman). Hal itu sudah berlangsung beberapa tahun yang lalu. Sekarang, kami memiliki putra mungil yang pintar dan sholih. Kalau suatu saat kita diberi kesempatan untuk berjumpa, silahkan panggil anak kami dengan nama Fachri.
Panjangnya saya bercerita, sampai lupa memberi tahu nama panggilan. Dan ini pasti akan membuat teman-teman bingung. Jangan bingung. Sillahkan panggil saya ‘Nur atau Cenung’. Kenapa Cenung? Ini panjang lagi ceritanya. Dan sepertinya harus saya bikin cerita tersendiri di lain waktu. Memang, kalau sudah cerita diri sendiri itu tiada habisnya. Ini saja, rasanya masih banyak yang belum tertulis. Tapi semoga dengan banyak cerita tapi sedikit isi ini bisa mewakili perkenalan saya.

Jangan lupa main kerumah saya ya. Main ke salah satu juga gak apa, namanya juga banyak rumah.hehe
Rumah  : Pelemgede RT 06 RW 02, Pucakwangi, Pati, Jawa Tengah.
FB           : Cenung.hasanah
Twitter : @cenung_ngaos
Ig            : Cenung hasanah
Blog       : Nyum-manis.blogspot.com


Sabtu, 22 Oktober 2016

Dia telah Pulang

Dia lama menghilang. Bagai tertelan bumi yang entah dimana berpijaknya.
Dia adalah anak lelaki keempat dari enam bersaudara. Parasnya tidaklah istimewa. Dia adalah anak yang lama tak berkabar. Tanpa sua dengan orang tua. Tapi dia adalah lelaki tanggung jawab. Memiliki empat anak dari dua istri.
Dia, lelaki biasa. Anak dari sepasang orang tua dari desa. Orangtuanyapun orang biasa, layaknya kebanyakan di desa, mereka bekerja sebagai petani.
Dan kebiasaan itu turun-temurun. Sampai generasi ketiga belum ada yang memotong status atas hal 'biasa tersebut'.

Dia adalah seorang bapak sekaligus kakek dari tiga cucu. Hidupnya dipertaruhkan demi keluarga. Mengadu nasib nun jauh dari keramaian dan jauh dari keluarga. Pergi petang pulang petang, dia lakukan dengan cinta demi kehidupan keluarga tercintanya.

Namun satu hal, dia lupa bersapa dengan saudara juga orang tua. Atau mungkin begitu kerasnya dia berjuang demi keluarga sehingga satu hal tersebut terlupakan.

Meski begitu, saudara dan orang tua begitu menyayanginya. Tak pernah sekalipun saudara dan orangtuanya mengucilkan dia. Hal tersebut sesekali bisa terlihat tatkala anak dan cucu dari dia berkumpul dengan saudara lain dan orang tua dia.

Ya, dia begitu gigih sehingga saudara dan orangtua tak lagi mencicip kemesraan dari dia.

Dia lelaki biasa. Tak pernah berkabar juga bersua. Dan entah sampai kapan dia dan saudara beserta orang tua bisa bersua menikmati kemesraan cinta kasih keluarga.

Dia. Dia telah pulang ke rumah Sang Esa. Dan kabar itupun berkabar dari orang lain.
Meski begitu saudara dan orang tua tetap mencintai dia. Karena dia adalah bagian dari mereka.

Paman, Semoga bahagia di sana.

Jumat, 21 Oktober 2016

Masih Ada Mentari Yang Tersenyum

Tertinggal, ya tertinggal
Waktu begitu cepat berlalu,
Meninggalkan saya seorang diri,

Tertinggal, ya tertinggal
Hanya ada cerita dalam sanubari
terbungkam erat bagai narapidana.

Ingin aku meraung
bercumbu dengan kalian
Agar tiada lagi nestapa

Tertinggal, ya tertinggal
Waktu berputar
Hari berganti
Dan saya masih di sini

Kenapa?
Apakah kalian tau?

Bukan!
Saya bukan malaikat,
Pun bukan putri berperi

Tapi, haruskah saya meratap?

Tidak!
Lihat, mentari itu masih ramah dengan senyum di pagi hari.

Jumat, 07 Oktober 2016

Pucakwangi, tak kenal maka tiada arti

Saya pernah malu ketika ditanya orang mana, alamat mana, domisili mana, atau apapun yang berhubungan dengan alamat.

Tapi itu dulu. Bukan sekarang.
Mungkin ketika saya masih ababil, layaknya itik yang belum ketemu induknya.

Sekarang? Silahkan bertanya seribu kali tentang tempat tinggal saya. Dan saya akan menjawab lantang!
Rumah saya beralamatkan di Desa Pelemgede, kecamatan Pucakwangi, kabupaten Pati, Jawa Tengah.

Iya, saya lantang bahkan boleh dikata bangga. Kenapa? Karena Pucakwangi itu kaya. Dan sedikit banyak saya telah mengenalnya. 

Pertama, saya ingin menceritakan salah satu Desa yang berada di kecamatan Pucakwangi, yaitu Desa Wateshaji.  Untuk menuju Desa Wateshaji, saya harus melewati kabupaten tetangga yaitu Kabupaten Blora. 

Kenapa begitu?
Apakah tidak ada jalan lain?
Apakah begitu terpencilnya kecamatan Pucakwangi?

To be continued......


Selasa, 04 Oktober 2016

Larut

Larut.
Bukan serbuk, namun malam.
Begitu terasa syahdu,
Juga mesra diiringi dendang sang katak.

Larut.
Semua menyebar, 
Pun menjadi satu.
Semua.
Tanpa terkecuali,
Dari mentari bersinar, 
Hingga bersembunyi.

Larut.
Dalam larut malam
Cerita itu menyeruak
Menari layaknya Jaipong.
Menarik perhatian.
Juga menggoda.

Dalam larutnya malam,
Ijinkan saya menari bersama pena.